Karnaval Jampana HJKB 216 Bandung, Coblong Usung Ulin Barong hingga Gedebage Angkat Masjid Al-Jabbar

oleh
Ilustrasi. Peserta membawa usungan jampana berbentuk patung Garuda dalam Pawai Budaya di Kota Bandung. Acara digelar untuk memperkenalkan keunikan seni, potensi wilayah, dan inovasi pelayanan publik kepada masyarakat. (Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung)

RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Karnaval Jampana dalam rangka Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) akan menampilkan beragam identitas wilayah, kesenian, kuliner, hingga inovasi pelayanan publik, Sabtu (24/10/2026). Setiap perangkat daerah dan kecamatan menyiapkan konsep Jampana sesuai karakter masing-masing untuk memeriahkan Pawai Budaya bertema Solidarity in Harmony.

Kepala Diskominfo Kota Bandung, Henryco Arie Sapiie menjelaskan setiap peserta akan membawa ciri khas instansi atau wilayahnya. Konsep dirancang agar masyarakat dapat mengenali keberagaman potensi Kota Bandung melalui penampilan dalam kirab budaya.

“Pawai Budaya HJKB 216 menjadi ruang untuk menampilkan identitas perangkat daerah dan karakteristik kecamatan melalui seni, budaya, kuliner, serta inovasi pelayanan publik,” ujar Henryco, Minggu (18/10/2026).

Henryco mengatakan Kirab Jampana dijadwalkan berlangsung pukul 06.00-09.00 WIB dengan rute sepanjang 1,3 kilometer. Rombongan akan bergerak dari simpang Jalan Diponegoro-Jalan Ir. H. Juanda menuju Jalan Merdeka, tepatnya gerbang keluar Balai Kota Bandung.

Menurutnya, konsep yang diusung perangkat daerah berfokus pada tugas pokok dan fungsi serta inovasi layanan kepada masyarakat. Identitas diterjemahkan ke dalam bentuk dan ornamen Jampana agar mudah dikenali oleh warga yang menyaksikan karnaval.

Henryco mengungkapkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, misalnya, mengangkat representasi kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan menampilkan mobil pemadam kebakaran, sedangkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mengangkat representasi hewan ternak.

Henryco menuturkan kecamatan akan memperkenalkan potensi dan kekhasan wilayah masing-masing. Unsur yang ditampilkan mencakup kesenian tradisional, kekayaan budaya, kuliner, serta sumber daya alam yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Henryco menyebutkan dalam pelaksanaannya, Kecamatan Coblong mengangkat kesenian Ulin Barong, Kecamatan Gedebage menampilkan Masjid Al-Jabbar, dan Kecamatan Babakan Ciparay memperkenalkan Tahu Cibuntu. Ketiganya menjadi contoh bagaimana karakter wilayah dapat dikemas dalam bentuk visual untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas.

“Melalui konsep Jampana, setiap peserta dapat memperlihatkan keunikan wilayah dan instansinya, sekaligus menjadi bagian dari semangat kebersamaan yang diusung dalam tema Solidarity in Harmony,” kata Henryco.

Selain menampilkan dekorasi, peserta diarahkan mengenakan kostum sesuai tema dan menyiapkan atraksi singkat atau yel-yel selama melintasi rute. Setiap rombongan juga diminta menyiapkan narasi yang akan dibacakan pembawa acara ketika mereka melewati panggung pentas seni.

“Penyampaian narasi bagian dari pengenalan konsep setiap peserta, masyarakat tidak hanya menyaksikan bentuk Jampana, tetapi juga memperoleh penjelasan mengenai identitas dan potensi yang ingin diperkenalkan,” ucapnya.

Henryco mengatakan karnaval turut melibatkan sejumlah pengisi acara, di antaranya Ega Robot Percussion, Kuburan Band, dan Bungsu Bandung. Berdasarkan draf jadwal, kirab berlangsung, pagi hari sebelum rangkaian kegiatan berlanjut di Balai Kota Bandung.

Pawai Budaya HJKB 216 menjadi salah satu agenda perayaan hari jadi Kota Bandung yang memadukan pertunjukan seni dengan pengenalan karakter wilayah.

“Keberagaman yang ditampilkan melalui Jampana dapat memperlihatkan kekayaan potensi kota dalam satu rangkaian kegiatan,” ujar Henryco. (dsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.