RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Ubi Cilembu mulai dilirik sebagai salah satu alternatif pangan untuk menghadapi ancaman perubahan iklim yang berpotensi mengganggu produksi pangan utama. Tanaman ubi jalar dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena dapat beradaptasi di berbagai kondisi wilayah dan menjadi sumber karbohidrat alternatif selain beras.
Potensi tersebut menjadi salah satu fokus pelatihan internasional South-South and Triangular Cooperation International Training Programme yang digelar di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, 26–30 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti delegasi dari 14 negara kawasan Asia-Pasifik dan anggota Gerakan Non-Blok.
Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI, Febrian Alphyanto Ruddyard.
Pelatihan bertema Building Resilient Livelihoods: Climate-Smart Solutions for Food, Nutrition and Income Security itu diprakarsai Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC) bersama Centre on Integrated Rural Development for Asia and the Pacific (CIRDAP), Kementerian Sekretariat Negara RI, serta Padjadjaran Centre for Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE-UNPAD).
Executive Director NAM CSSTC, Chandra Widya Yudha, mengatakan kerja sama internasional tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan petani menghadapi dampak perubahan iklim melalui penerapan pertanian cerdas iklim atau Climate-Smart Agriculture (CSA).
“Kerja sama internasional ini ditujukan untuk membantu para petani menghadapi perubahan iklim. Salah satu sektor utamanya adalah ubi jalar. Kita mempromosikan pusat penelitian PRAISE di UNPAD yang mengelola ubi Cilembu agar peserta bisa saling belajar meningkatkan pendapatan dari pengelolaan ubi,” kata Chandra.
Menurutnya, kerja sama dengan CIRDAP tidak hanya berfokus pada ubi jalar, tetapi berpeluang diperluas ke komoditas lain, seperti kelapa dan rempah-rempah.
Hasil pelatihan dan penelitian juga direncanakan dibukukan agar dapat dimanfaatkan peneliti, petani, dan pemangku kepentingan di berbagai negara.
“Pengembangan ubi Cilembu melalui riset dan kerja sama lintas negara diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani melalui diversifikasi produk dan pengembangan pasar,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menilai ubi jalar berpotensi menjadi pilihan pangan alternatif ketika produksi tanaman pangan utama terganggu akibat perubahan iklim.
“Ubi ini tanaman yang tidak manja. Beda dengan padi yang membutuhkan banyak air dan iklim yang baik. Ubi bisa tumbuh di mana saja dan memiliki nutrisi yang tidak kalah dengan padi, baik karbohidrat maupun gulanya. Ini bisa jadi alternatif saat perubahan iklim terjadi, terutama di wilayah yang padinya tidak bisa tumbuh dengan baik,” ujar Arief.
Melalui PRAISE-UNPAD, Unpad mengembangkan berbagai varietas ubi jalar untuk dataran tinggi maupun dataran rendah. Pemanfaatannya tidak terbatas pada konsumsi langsung, tetapi juga mencakup bahan baku industri pangan, seperti tepung, mi, dan produk olahan, hingga potensi sumber energi alternatif.
Arief mengatakan bibit unggul hasil penelitian Unpad diharapkan dapat dikembangkan bersama negara-negara peserta dengan menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing.
Meski sejumlah varietas hasil riset telah diuji coba di beberapa negara, termasuk Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara, pengembangan industri ubi jalar dalam skala besar di Indonesia masih menghadapi kendala ketersediaan lahan. Unpad pun menjajaki kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi dan Kementerian Pertanian untuk memperluas area tanam bersama petani.
Sebanyak 14 negara yang berpartisipasi dalam pelatihan tersebut meliputi Bangladesh, Fiji, India, Indonesia, Iran, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. (gun)





