RADARSUMEDANG.ID, PAMULIHAN – Momentum penyembelihan hewan kurban dihari raya idul adha, bersamaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Covid-19, dimanfaatkan artis presenter Irfan Hakim untuk berbagi kepada warga di Kecamatan Pamulihan dan Tanjungsari.
Penyembelihan sapi kurban berukuran super jumbo berbobot 1,3 ton itu sengaja ia lakukan agar bisa membagi dan menjangkau masyarakat secara luas. Bahkan sapi berkulit hitam legam yang diberi nama Grandong itu, sengaja ia potong dipersembahkan khusus bagi warga di Desa Mekarbakti Kecamatan Pamulihan dan warga di Dusun Cibuntu Raharja Tanjungsari.
“Alhamdulillah hari ini bisa berkurban karena diberi kesempatan dan rezeki, dan tiap tahun itu berbeda biasanya hanya transfer ketemu pas hari H, cuma melihat mengusapnya. Namun sekarang ada interaksi yang intens dengan hewan kurbannya dan katanya memang tidak wajib seperti itu, tapi harus betul-betul, karena sesuatu yang kita sayangi tidak hanya lewat begitu saja,” ucap Irfan kepada Radar Sumedang. Selasa (20/07).
Irfan mengaku memiliki rasa berbeda saat diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan hewan kurban, dari merawatnya meski cuma beberapa hari, muncul ikatan batin dengan hewan tersebut rasanya sangat berbeda dan itu dirasakan tahun ini.
“Dengan Si Grandong ini sampai benar-benar terharu dan menangis, tidak ada keraguan dan ditetapkan dihati, ketika bertransaksi memutuskan membeli hewan kurban, walaupun ditengah-tengah banyak yang menyayangkan si Grandong dikurbankan dan memberi masukan agar dirawat saja. Semakin kita sayang insyaallah semakin berat dan ikhlasnya diuji oleh Allah SWT, semakin sayang semakin bagus,” tambahnya.
Irfan mengaku, selain di Sumedang ia juga
berkurban di tanah kelahirannya, tetapi ketika Si Grandong dijual entah kenapa hatinya teringat dengan Sumedang, sehingga langsung dibeli dan disembelih disini. Apalagi dimasa pandemi Covid-19 sekarang ini pangan sudah sangat sulit disini banyak saudara-saudara membutuhkan akhirnya memutuskan melakukan disini.
“Saya lahir di Bandung, saya memilih Sumedang untuk menyembelih Si Grandong karena Sumedang adalah rumah masa depan saya, dalam artian kata, karena kebetulan mempunyai tanah makam disini jadi akan menitipkan jasad saya ketika ia meninggal di Sumedang. Selain itu, karena sapinya ukurannya sangat besar bisa didistribusikan tidak hanya satu desa melainkan bisa menyentuh satu kecamatan,” katanya.
Mudah-mudahan, harap irfan, masyarakat disini bisa ikut merasakan dagingnya si Grandong, sapi yang sangat viral ini sangat membuatnya khawatir mengganggu keikhlasannya.
“Takutnya saking viralnya, diomongin orang, pemberitaan dimana-mana, takut muncul rasa sombong ria didalam hati sehingga apa yang saya kurbankan menjadi sia-sia. Alhamdulillah viralnya ini bukan menjadi tujuan, ini adalah efek yang bisa merangsang orang-orang untuk berkurban dengan hewan sapi besar,” ucapnya.
Ia menjelaskan, berkurban dengan sapi besar identik dengan Presiden, tetapi sekarang semua orang bisa melakukannya tidak harus menunggu jadi presiden untuk berkurban sapi besar.
“Sekarang siapapun bisa menjadi presiden untuk dirinya sendiri dengan berkurban dengan kemampuan semaksimal mungkin dia mampu,” katanya.
Menurutnya, proses pemotongan hewan kurban langsung diawasi unsur TNI, Polri dan Pemerintahan. Kenapa demikian, karena berkemungkinan sekali untuk berkerumun bergerombol, tidak hanya masyarakat setempat, dari luar juga hadir namun ditutup karena menjaga prokes. (tha).





