RADARSUMEDANG.ID – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang berupaya meningkatkan wawasan penyuluh dan petani melalui workshop Program IPDMIP.
Program IPDMIP adalah Program Pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan swasembada pangan di daerah irigasi, hal tersebut sangat penting lantaran air merupakan faktor alam yang sangat dibutuhkan dalam melakukan budidaya pertanian.
Workshop dihadiri oleh perwakilan 12 UPTD/BPP dari 12 Daerah Irigasi kesepakatan Kabupaten Sumedang, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Koordinator Kabupaten IPDMIP dengan Narasumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, BAPPPPEDA, Dinas PUPR, Tenaga Ahli Konsultan Regional 3 Jawa Barat serta Pengalaman Lapangan.
Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada Tanggal 30 dan 31 Agustus 2021 bertempat di Aula II Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang (Samoja).
Workshop itu digelar Program IPDMIP dengan dukungan dari District Project Implementation Unit (DPIU)/Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang dan PT. Cakra Buana Consultans.
Program IPDMIP di Kabupaten sumedang dimulai Tahun 2020 dengan 5 lokasi daerah irigasi dan telah melaksanakan pemberdayaan petani melalui Sekolah Lapangan Petani khususnya padi sawah, dari data hasil pengubinan pada lahan Laboratorium Lapang (LL) diperoleh kenaikan produksi rata-rata sebesar 13 Persen pada musim tanam Oktober – Maret.
Ketersediaan pangan terwujud jika petani dibekali pengetahuan dan keterampilan agar mau dan mampu mengadopsi hal baru dan mengimplementasikannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang H Amim mengatakan Program pemerintah ini dirancang untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi baik kewenangan pusat, provinsi maupun kabupaten sehingga dapat mendukung tercapainya swasembada beras yang menjadi target Nawacita.
“Petani di daerah irigasi IPDMIP berupaya meningkatkan pendapatan petani dari usahatani padi sawah, juga dari komoditas lain yang bernilai ekonomi tinggi seperti di Daerah Irigasi Cianjur, Cikawao, Cipasir II , Cibeureum Kulon petani sudah terbiasa menanam sayuran seperti Kol, Tomat, Buncis , Cabai, Kangkung dan lain-lain,” ujarnya.
Ĺebih lanjut, kata Amim, pemasaran hasil untuk memenuhi kebutuhan sayuran ke Jakarta, Bandung, Super Market dan Pasar Tradisional disekitar Bandung dan Sumedang serta untuk komoditas Buncis Mini (Baby Kenya) sudah ekspor ke Singapura. Komoditas perkebunan seperti kopi berada di wilayah UPTD/BPP Rancakalong, Tanjungsari, Pamulihan dan Jatinangor dengan target pasar local, nasional dan inetrnasional.
Dalam diskusi, Peserta Workshop lebih banyak mengevaluasi kegiatan Sekolah Lapangan petani yang telah dilakukan, apa kelebihannya, kendala yang dihadapi, rekomendasi dan strategi pelaksanaannya, agar pelaksanaan Sekolah Lapangan petani dimasa yang akan datang semakin lebih baik.
“Hasil diskusi tersebut menjadi masukan bagi Program IPDMIP di Kabupaten Sumedang. Kami berusaha mengubah kebiasaan, tidak selalu narasumber memberi ceramah dan teori, justru ilmu itu dari peserta yang sudah berpengalaman bertani,” ungkapnya.
Melalui Program IPDMIP, diharapkan petani dapat mengembangkan diri bukan di sistem pertanian saja, tapi juga harus memahami tentang pengelolaan keuangan rumah tangga petani dan pemasaran agar hidupnya lebih sejahtera.
Peserta berharap ada kegiatan lanjutan dari workshop ini sehinghga kegiatan agribisnis di daerah irigasi semakin maju, mandiri dan modern, untuk menangani produk kelompok melalui kemitraan dengan kelembagaan yang mendukung proses agribisnis di daerah irigasi. (Isl/rls).






