RADARSUMEDANG.ID – Penyakit Tuberculosis atau lebih dikenal dengan TBC rupanya masih menjadi satu dari berbagai keluhan yang ditemukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas.
TBC pun selain menyerang di usia produktif tak jarang juga menyasar anak-anak dan balita. Oleh sebab itu peran Puskesmas sangat dibutuhkan untuk setidaknya bisa menekan angka penderita TBC di wilayah kerjanya masing-masing.
Dikonfirmasi, salah seorang Penanggung Jawab Program TBC di UPT Puskesmas Padasuka, Rina Kuntari mengatakan, sejauh ini kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Padasuka tergolong normal.
“Dari bulan Mei sampai Juni ada 13 orang dengan kategori TBC 1 yang terdata dan terobati oleh kami, dan itu semua masuk dalam standar pelayanan minimal (SPM). Mereka rata-rata merupakan pasien usia produktif, dan diantaranya ada juga anak-anak umur 3 tahun,” kata Rina ditemui RADARSUMEDANG.ID di Puskesmas Padasuka, Selasa (21/6).
Adapun upaya pendampingan dan penanganan yang dilakukan oleh Rina saat ditemukan kasus TB, maka pasien yang bersangkutan harus dilakukan screening terlebih dahulu. Selain itu ada sebuah pendampingan yang dilakukan oleh kader Puskesmas yang selalu melakukan investigasi sampai pasien tersebut dinyatakan sembuh.
“Jika ada batuk lebih dari dua minggu kami arahkan langsung poli TB. Kemudian kalau mengarah ke TB maka akan dilakukan pemeriksaan dahak. Jika hasil dahaknya terkonfirmasi positif, maka kita obati dan dilakukan pendampingan setiap bulannya ke rumah pasien,” ujarnya.
Lanjut Rina pembinaan langsung ke keluarga pasien, yang TB (pemantauan makan dan obat). Sedangkan jika tidak ada keluarga terdekat, maka kader kesehatan akan bergerak untuk melakukan edukasi dan pendampingan.
“Kami juga selalu melakukan edukasi lingkungan bekerjasama dengan petugas Promkes dan kesehatan lingkungan. Karena orang yang TB, lingkungan sekitar rumah tidak boleh ada kelembaban sehingga butuh pencahayaan. Kalau perlu dengan petugas gizi, sehingga satu orang yang terdata dikeroyok oleh program,” ucapnya.
Selain itu edukasi juga diarahkan pada keluarga. Mulai dari alat makan yang terpisah antara pasien dan keluarga. “Edukasi bila pasien TB itu ada gangguan nutrisi badan yang kurus asupan gizi yang baik. Misalkan jangan meludah sembarangan, ventilasi udara, obat selama 6 bulan berturut-turut tidak boleh ada yang kelewat juga pot khusus untuk dahak,” katanya. (jim)







