RADARSUMEDANG.ID – Sejumlah pengusaha tembakau di Kecamatan Sukasari, mengeluhkan kondisi cuaca yang berujung kepada sulitnya mendapatkan bahan baku tembakau. “Kendala saat ini yang dialami kami pengusaha, sulitnya mendapatkan bahan baku, dari Lombok dan Bojonegoro yang biasa ngirim sekarang tidak ada, biasanya bulan Januari ini gudang selalu penuh oleh barang, karena pesanan mulai rame, tapi sekarang tidak ada barang,” ucap pengusaha tembakau asal Sukasari, H. Atam kepada RADARSUMEDANG.ID pada Rabu (04/01).
H. Atam mengaku, alasan sulitnya mendapatkan bahan baku lantaran para petani yang menanam tembakau mengalami gagal panen, lantaran cuaca yang ekstrem membuat sawah warga terendam banjir. “Bahan baku ada namun sedikit, seperti dari Lombok, Bojonegoro, yang habis dibeli oleh pemegang modal atau perusahan pabrik rokok alami, sehingga tidak bisa menjual keluar,” tambahnya.
Ia mengaku, hampir seluruh pengusaha tembakau saat ini mengalami kondisi serupa, terutama diwilayah Sumedang, selain karena faktor cuaca juga diperparah dengan minimnya minat warga menanam tembakau. Biasanya mengandalkan membeli daun bahan mentah dari Darmawangi, Bantarujeg, ternyata tidak maksimal karena cuaca tidak bersahabat.
“Daun tembakau yang bagus tergantug cuaca, saat ini banyak pesanan biasa mengirim ke Palu, Bali, namun karena minim barang sehingga tidak bisa terpenuhi, kalau rata-rata kerugian menurun sekitar 20 persen,” ucapnya.
Biasanya, kata ia, bahan baku yang telah dibeli dari beberapa petani berupa daun atau tembakau yang sudah diiris diolah kembali.
“Sekarang stok kosong, membeli sedikit dari petani, meskipun ada namun harganya cukup tinggi, harga tembakau tidak bisa kompromi, sekarang harga perkilo mencapai Rp140 ribu, biasanya paling tinggi 70 ribu perkilo, sekarang sudah dua kali lipat, sesudah diolah saya biasa menjual perkantong ada yang 60 gram, 50 gram, 80 gram, dijual kisaran 5 sampai 10 ribu perkantong, sekarang sudah tidak terkejar harga segitu, karena harga bahan bakunya di atas 100 ribu,” tutupnya. (tha)





