RADARSUMEDANG.id, KOTA – Semarak Kemerdekaan RI ke-78 rupanya belum berhenti di kalangan masyarakat. Berbagai perlombaan yang masih dipertahankan hingga perlombaan baru yang unik acap kali mengundang perhatian. Salah satunya perlombaan Lintas Bambu di Dusun Bojong, RT 01 dan 02/RW 02, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara.
Perlombaan yang seperti melintasi jembatan tunggal terbuat dari sebatang bambu di sebuah kolam air ini, menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu oleh warga sekitar. Salah seorang panitia, Riki Junior (36) mengatakan bahwa permainan ini merupakan agenda tahunan yang sangat berkesan selama beberapa tahun ke belakang.
“Sekarang baru diadakan lagi, setelah vakum selama beberapa tahun akibat pandemi Covid-19. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan cukup menyenangkan,” kata Riki kepada Radar Sumedang, Sabtu (26/8).
Keseimbangan tubuh kata Riki, sangat dibutuhkan dalam permainan sederhana ini. Terlebih jika tidak dapat menguasai keseimbangan tubuh, maka seseorang akan jatuh ke kolam sehingga hal itu bisa menjadi diskualifikasi sehingga yang berhasil mencapai finish tanpa terjatuh menjadi pemenang bak menyebrang jembatan sirotol mustaqim.
“Jadi semakin jauh semakin kecil dan dipastikan akan bergetar. Siapapun yang tidak mampu mengendalikan getaran bambu yang dipijaknya itu, maka pastilah ia akan terjatuh ke kolam,” ujarnya.
Selain itu permainan ini biasanya dilakukan bersama dengan perlombaan lain yang juga memerlukan fasilitas kolam. Sebut saja ‘Gebuk Bantal’, sebuah permainan adu keseimbangan duduk di atas sebatang bambu yang dibentangkan di atas kolam.
Terdapat dua peserta yang duduk saling berlawanan, permainan saling menjatuhkan dengan cara menggoyangkan tubuh lawan menggunakan bantal, hingga lawan hilang keseimbangan dan terjatuh ke kolam.
“Tentunya kita sebagai pemuda angkatan 90-an rindu akan permainan dan sukacita perayaan 17 Agustus tersebut. Momentum HUT RI ini setidaknya jadi momentum untuk merajut kembali rasa persaudaraan antar warga. Ada hiburan, ada kesenangan atas permainan klasik yang selalu menjadi kenangan,” ucapnya.
Kendati demikian, Riki beserta panitia mengaku sempat kesulitan untuk menentukan lokasi permainan. Mengingat selain faktor musim kemarau panjang, sudah terlalu banyak kolam-kolam ikan warga yang kini berubah menjadi bangunan-bangunan permanen.
“Kendalanya mungkin kalau dulu warga masih bisa memilih lokasi, mau di kolam mana. Kalau sekarang sudah banyak yang dibangun rumah. Kebetulan sekarang ini sedang musim panas, sedikit susah air, meskipun pada akhirnya kita temukan masih ada satu kolam milik warga,” katanya.
Terpantau mulai dari awal peserta mendaftarkan diri dan mengantri menunggu giliran, panitia bersiap di dalam kolam guna mengantisipasi peserta yang jatuh agar tetap dalam keadaan aman.
Sementara panitia lainya bertugas mengatur antrian, memanggil nama peserta yang hendak melintas, memberikan aba-aba dan sisanya lagi memainkan musik selama permainan tersebut berlangsung. (jim)







