Kurikulum Terus Berganti, Kekerasan dalam Dunia Pendidikan Terus Terjadi

oleh

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Sejumlah pihak menyayangkan dengan mecuatnya aksi kekerasan seorang oknum pelajar Madrasah Aliyah di Demak Jawa Tengah terhadap gurunya sendiri. Hanya karena mendapatkan nilai rendah dan tidak diperbolehkan ujian, oknum pelajar itu tega tanpa tedeng aling-aling membacok kepala sang guru dengan senjata tajam, hingga korban harus dilarikan ke rumah sakit.

Kepala MTs Istigfarlah Sumedang Imadudin, SAg mengaku prihatin dengan kejadin tersebut sekaligus mengecam agar guru madrasah mendapatkan jaminan perlindungan keselamatan dari Pemerintah saat mengajar.

Menurut Imad, sapaannya, secara tidak langsung persitiwa yang mencoreng dunia pendidikan di lingkungan Kementerian Agama ini merupakan dampak dari sering bergantinya kurikulum.

“Bisa jadi isiden memalukan tersebut adalah imbas dari sering digantinya kurikulum yang hampir satu tahun sekali. Yang pada kenyataannya pergantian kurikulum itu tidak membuat ahlak dan kecerdasan siswa meningkat, yang ada malah moril para pserta didik semakin tidak terkendali,” terang Imad, baru-baru ini.

Imad sangat beralasan lantaran dari waktu ke waktu, semaraknya kasus per kasus yang terjadi pada peserta didik di berbagai daerah. “Seperti sering terjadinya perundungan yang selalu memakan korban pada peserta didik hal ini perlu ada koordinasi semua pihak. Aksi- aksi brutal bak film kungfu yang dilakukan para pelajar hingga viral di media sosial ini tidak bisa hanya disudutkan kepada pihak sekolah atau para guru itu sendiri, apalagi ketika guru juga ikut menjadi korban aksi mereka,” katanya.

Sebagai bagian dari insan pendidikan madrasah di Sumedang, Imad mendorong agar insiden-insiden kekerasan yang sama agar tidak terluang dengan acara segera ada tindakan nyata dari semua pihak yang terkait.

“Minimal duduk bersama untuk mengkaji bersama dan hasilnya diajukan dan dijadikan masukan untuk dijadikan sebuah regulasi. Banyak orang menyatakan bahwa pendidikan yang bagus itu di zaman dahulu, tidak pernah terdengar ada siswa yang berani melawan kepada gurunya sendiri, tetapi sekarang ahlak dan moral siswa jauh berbanding terbaling,” ulasnya.

Imad membandingkan dengan penerapan kurikulum sebelumnya yang dinilai tuntas dalam mendidik siswa. Namun, menurutnya sekarang malah sebaliknya, sering berganti kurikulum namun tidak lebih baik terutama dengan pendidikan karakter bagi siswa.

“Kurikulum hampir setiap tahun diganti sehingga dalam membentuk karakter anak itu sulit dicerna, jangankan membentuk karakter pesrta didik, toh pihak guru pun kadang merasa kebingungan, karena baru juga memahami kurikulum, sudah ada penggantian lagi,” tandasnya.

Ketimpangan lainnya dengan kondisi kurikulum saat ini, jumlah jam di sekolah dan diluar sekolah lebih banyak diluar sekolah. “Makanya perlu duduk bersama dari semua pihak, apalagi di era digital ini sangat rentan sekali dengan berbagai informasi yang ditayangkan setiap saat baik di medsos maupun di layar televisi. Berbeda dengan dahulu TV pun cuma satu TVRI, dan tayangnyapun dibatasi tidak 24 jam, nah saatnya sekarang butuh kajian khusus oleh para ahli,” pesannya. (rik)

No More Posts Available.

No more pages to load.