RADARSUMEDANG.id, KOTA – Pj Bupati Sumedang Herman Suryatman melakukan sidak ke sejumlah pedagang di Pasar Inpres, Selasa (10/10/2023).
Pada kesempatan itu dirinya mengunjungi beberapa jongko pasar yang menjual beras dan telur. Mengingat sebagaimana diketahui, harga beras saat ini mengalami kenaikan sekitar 20 persen dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditengarai karena gagal panen dan kemarau panjang.
“Kali ini kami blusukan langsung untuk melihat dan memastikan operator kami dengan baik, hasilnya memang tidak jauh berbeda apa yang ada di aplikasi dan di lapangan. Ada beberapa komoditas bapokting yang mengalami kenaikan, stabil dan bahkan ada yang harganya di bawah,” kata Herman kepada sejumlah awak media.
“Acuan penjualannya di Rp 12 ribu per kilogram, namun faktanya di angka Rp 14 ribu. Memang ada kenaikan, namun demikian masih ada dalam koridor,” katanya lagi.
Adapun sambung Herman, dalam satu dua hari ke depan pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar terbatas.
“Nanti tergantung eskalasi, jika kenaikannya 15 persen tetap akan kita lakukan operasi pasar namun terbatas sehingga tidak merugikan para pedagang juga. Tapi jika kenaikannya sudah 40 persen itu kita akan guyur dan kerjasama dengan bulog,” ujarnya.
Dalam hal ini yang terpenting lanjut Herman adalah bagaimana masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang normal.
“Masyarakat harus mendapatkan harga yang murah, atau paling tidak sama dengan harga eceran tertinggi. Paling tidak, di kisaran yang tidak terlalu jauh, jika nanti suplai dan demand-nya terjadi kesenjangan otomatis ada kelangkaan, maka kami akan lakukan kembali operasi pasar. Jadi orientasi kami pasar harus stabil, inflasi harus terkendali,” ucapnya.
Herman menambahkan, untuk memudahkan monitoring dan pemantauan setiap hari terhadap harga kebutuhan pokok dapat dipantau secara digital melalui platform digital ‘Sindang’.
“Kami telah memiliki aplikasi bernama sistem informasi perdagangan (Sindang) dan tiap hari harga-harga kebutuhan pokok dan penting (bapokting) dari 9 pasar di kabupaten Sumedang, 7 pasar pemda dan 2 pasar desa. Itu dientri oleh operator setiap hari ke aplikasi sindang, jadi forkopimda bekerja setiap hari memonitoring harga bapokting paling tidak di 9 pasar, sehingga kami mengetahui harga average atau rata-ratanya,” terang Herman.
Sementara salah seorang pemilik kios beras, Tatang (41) mengatakan, kenaikan harga beras terjadi karena berkurangnya pasokan dari petani juga faktor cuaca ekstrim.
“Sejak satu bulan lalu harganya memang sudah naik. Pasokan juga berkurang, karena banyak yang gagal panen,” sebut Tatang.
Kondisi ini diakui Tatang juga berdampak pada daya beli konsumen. Sehingga dirinya sebagai pedagang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sudah pasti pembeli mengeluh, belinya juga enggak banyak. Padahal dalam satu hari saja dua kios saya bisa menjual 1 ton beras. Sekarang sehari saja, paling hanya 500 kuintal saja terjual,” ungkap Tatang.
Ia berharap pemerintah segera mencarikan solusi terbaik. “Mudah-mudahan kondisi ini segera normal kembali, khawatir kami semakin kehilangan pelanggan. Kami tidak ada masalah kalau ada operasi pasar, tapi jangan terlalu lama karena harus adil juga bagi kami selaku pedagang,” pungkas Tatang. (jim)





