RADARSUMEDANG.id, KOTA – Perayaan Milangkala ke-446 Kabupaten Sumedang telah dilaksanakan dengan cukup meriah. Acara yang setiap tahun dimeriahkan dengan kirab panji dan kirab pusaka tersebut menandakan bahwa Sumedang memiliki sejarah yang cukup panjang di tatar Sunda. Tak ayal, Sumedang dikukuhkan sebagai Puseur Budaya Sunda.
Salah satu akademisi yang juga merupakan tokoh budaya Kabupaten Sumedang, Yosep Rohimas, SE., M.M yang lebih akrab disapa Yosep CBU mengomentari perayaan Milangkala Sumedang kali ini.
“Tentunya selamat bagi kita semua sebagai warga Sumedang yang telah menginjak usia ke 446 tahun, semoga Sumedang ke depannya makin sukses,” katanya, Minggu (28/4).
Perayaan Milangkala tahun ini yang berbarengan dengan tahun politik pun turut dikomentari olehnya. Ia berharap di hari jadinya yang ke-446 tahun ini, Sumedang mendapatkan kado terbaik, berupa pemimpin yang mampu memahami arah pembangunan Sumedang
“Betul, kemarin Pileg dan sebentar lagi Pilkada. Semoga saja terpilihnya pemimpin yang baik, yang mampu memahami arah pembangunan Sumedang ke depan menjadi kado terbaik untuk Milangkala kali ini,” ujarnya.
Lebih jauhnya, Yosep pun memberikan komentar mengenai keberadaan proyek strategis nasional (PSN) di wilayah Sumedang. Dalam hal ini Jalan Tol Cisumdawu diharapkan mampu mendongkrak penyerapan angka tenaga kerja dan lapangan usaha baru bagi masyarakat Sumedang.
Dia menyebutkan, untuk pelaku usaha, terutama kelompok UMKM di Sumedang perlu diberi fasilitas lahan atau showroom usahanya di rest area Tol Cisumdawu
“Rest area harus benar-benar diisi dan dikelola para kelompok usaha di Sumedang agar semua produk-produk atau komoditas unggulan di Kabupaten Sumedang tetap akan laku terjual, jadi fungsi rest area itu sebagai etalase komoditi asal Sumedang,” ujar Yosep yang pernah menjadi Pengusaha Muda sukses Sumedang sekitar tahun 2004.
Yosep sebagai mantan Direktur PO Bus Cahaya Bhakti Utama (CBU) mengungkapkan, bercermin dari pelaku usaha di Cianjur, khususnya pelaku usaha rumah makan, banyak yang mengalami kebangkrutan pasca adanya Tol Cipularang.
“Belajar dari kasus Tol Cipularang, pelaku UMKM (terutama rumah makan) menjadi anjlok, karena tidak mempersiapkan diri melakukan langkah-langkah antisipatif dari dampak adanya tol. Nah untuk Sumedang sudah punya pelajaran dari kasus (Tol) Cipularang,” ungkap Yosep yang juga pernah menjabat Ketua Forum Paguyuban Pedagang Sumedang.
Yosep yang juga merupakan mantan Dosen STBA mengungkapkan, adanya Tol Cisumdawu telah dirasakan oleh para pelaku usaha di Sumedang. Contohnya para pedagang panganan tahu di pinggir-pinggir jalan yang penjualannya dirasakan menurun.
Ia menggambarkan, untuk mengantisipasi kemungkinan melemahnya sektor usaha, akibat adanya jalan tol, pemerintah daerah harus membuat rencana strategis yang komprehensif.
Lebih jauh Yosep memaparkan, saat dirinya menjadi narsum untuk sosialisasi pembangunan Tol Cisumdawu di 6 kecamatan ring Tampomas, ia telah melakukan pemetaan bahwa di wilayah Sumedang butuh 1 rest area yang representatif yang bisa dikunjungi oleh para pengguna Tol Cisumdawu dari 2 arah (barat dan timur). Dan pelaku UMKM Sumedang bisa ditempatkan di rest area tersebut.
Untuk lebih sempurna lagi, ada akses khusus dari rest area tersebut ke tempat wisata ekologi yang juga menampung jenis kegiatan masyarakat yang selama ini sudah berjalan.
“Seperti komunitas HPDKI (Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia) yang telah terwadahi, dengan adanya wisata ekologi tersebut membuka wisata dari hulu ke hilir dan konsepnya pun sudah ada, sudah tersedia,” katanya lagi.
Yosep juga menegaskan, kebutuhan Sumedang untuk 5 tahun ke depan adalah tingkat pembangunan ekonomi, terutama pasca terbangunnya PSN Tol Cisumdawu.
“Keberadaan PSN seperti Tol Cisumdawu tentu mempengaruhi ekonomi masyarakat, maka untuk 5 tahun ke depan Sumedang membutuhkan sosok ahli atau praktisi yang memahami sektor ekonomi untuk memimpin,” tutur Yosep.
Selain itu kata Yosep, perlu diingat bahwa IKN sudah terealisasi. Kedepannya, bukan Jakarta lagi yang akan menjadi barometer pembangunan, tetapi Ibu Kota Nusantara dengan segala macam teknologinya.
“Maka Sumedang harus mampu melakukan lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan. Untuk itu, calon-calon kepala daerah yang akan maju nantinya harus mampu menyiapkan ini semua,” tuturnya.
Ditanya oleh awak wartawan, apakah dia sendiri akan mencoba untuk maju di Pilkada Sumedang 2024-2029, Yosep menjawab singkat.
“Kita lihat nanti,” ucapnya. (gun)





