Mencari Titik Temu Budaya Sunda yang Islami

oleh
Para narasumber dialog Islam dan budaya dengan tema menyongsong Sumedang sebagai puseur budaya Sunda di Gedung Negara, Sabtu (4/5/2024).

RADARSUMEDANG.ID, KOTA–Laskar Santri Sumedang bekerjasama dengan Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) menggelar dialog Islam dan budaya dengan tema menyongsong Sumedang sebagai puseur budaya Sunda di Gedung Negara, Sabtu (4/5/2204).

Dengan menghadirkan para ulama terkemuka seperti KH Ahmad Syarif (Mama Gelewing) dari Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, Rd. Dede Haidar (Ketua Yayasan Pangeran Sumedang), Ustad Deni Nurjaman, S. Ag (Ketua Laskar Santri Sumedang) dan Ki Wangsa (Budayawan) dan dihadiri sejumlah jamaah yang tersebar di wilayah Kabupaten Sumedang.

Para narasumber bermaksud ingin memberikan pemahaman bagaimana melestarikan budaya Sunda namun sesuai syariat Islam yang berlaku dalam Al-Qur’an dan hadits.

Salah seorang narasumber yakni, Ustadz Deni Nurjaman, S. Ag mengatakan, bahwa dirinya ingin menyampaikan saat ini budaya-budaya Sunda khususnya yang ada di Sumedang dirasa ada yang hilang

Sebagai contoh budaya Tajug (ditata dan dijugjug) atau seperti nadhom sebelum adzan. Nampaknya sudah hilang sehingga pada saat magrib atau isya, biasanya anak-anak ramai ke masjid. Namun dirinya justru menyaksikan anak-anak sekarang lebih memilih konten-konten TikTok di laman media sosial.

“Selain itu ada juga salaman kepada orang lain atau yang lebih tua hanya simbol saranghae (Korea) kemudian sungkeman, bahkan sampai ke pipi kanan pipi kiri dan dahi sekarang itu sudah hilang. Mari kita tata lagi budaya-budaya yang sudah ditanamkan oleh leluhur kita seperti Pangeran Santri sehingga mari kita ciptakan budaya Sunda yang islami,” kata Ustadz Deni kepada Radar Sumedang.

Selain itu lanjut Ustadz Deni, ada pembahasan menarik yang ditanyakan oleh salah satu jamaah mengenai konteks pemujaan kepada Dewi Sri saat akan menggarap sawah. Terlebih budaya ini sebagaimana diketahui masih kental di beberapa wilayah di Kabupaten Sumedang.

Kita juga akan adakan road show dari YPS ke pesantren dan daerah lainnya supaya terbentuk budaya Sunda yang islami.

Karenanya sebagaimana syari’at yang gamblang dari salah satu raja Sumedang terdahulu yaitu Pangeran Santri. Ada sebuah ajaran bagaimana memoles budaya leluhur  yang sesuai syariat dan mana yang tidak.

“Seperti contoh kasus bagaimana budaya terhadap Dewi Sri saat di sawah. Maka bentuk persembahannya kita hilangkan atau SOP-nya diganti dengan sedekah sehingga unsur keislamannya dimasukkan. Karena ketika kita panen dahulukan sedekahnya supaya hidup ini berkah,” ujarnya.

Senada Rd. Dede Haidar (Ketua Yayasan Pangeran Sumedang), dirinya mencoba menarik benang merah kaitannya antara Islam dengan budaya yang berkembang di tatar Pasundan khususnya di kerajaan Sumedang Larang.

Pasalnya sebagaimana yang diajarkan oleh leluhur Sumedang seperti Eyang Prabu Geusan Ulun dan Pangeran Santri, budaya yang ada di Sumedang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Oleh karenanya, sebagai masyarakat tidak boleh melanggar hukum agama, hukum negara dan juga tidak boleh melabrak adat istiadat yang berkembang di masyarakat khususnya budaya yang tidak melanggar syariat.

“Leluhur Sumedang seperti Prabu Geusan Ulun dan Pangeran Santri sebetulnya adalah ulama namun berbaju pemerintahan juga seorang wali. Jadi penyebaran Islam di Sumedang ini dilakukan oleh rajanya sendiri,” tuturnya.

Kendati demikian disinggung mengenai budaya Sunda yang masih kental di Sumedang kaitannya dengan Dewi Sri, Ustadz Dede Haidar menghormati akan budaya tersebut. Akan tetapi bilamana mengaitkan selain kepada Allah SWT jelas dilarang.

“Tidak semua budaya berlandaskan syariat sehingga kalau budaya itu bertabrakan dengan syariat maka jangan dilakukan. Jadi bahasa uyut (leluhur) harus disesuaikan dengan ayat,” katanya. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.