Bonggol Pisang dan Kulit Udang Jadi Pupuk

oleh
Koleksi Prili Alisha

RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Mungkin sebagian orang memandang bahwa limbah bonggol pisang dan kulit udang hanya limbah biasa. Ternyata tidak, bagi mahasiswa Universitas Padjadjaran, mereka menyulap limbah tersebut menjadi pupuk dengan teknologi Slow Release Fertilizer.

Produk yang diberi nama Pupukin! Ini dilapisi bahan makromolekul untuk menunda pelepasan nutrisi ke tanah. Sehingga mengurangi frekuensi pemupukan dan memberikan manfaat optimal bagi tanaman. 

Salah seorang mahasiswa Prili menjelaskan, penggunaan produk tersebut cukup satu kali yang bisa menemani tanaman sampai panen. Limbah bonggol pisang mengandung beberapa mikroba yaitu Aeromonas sp., Bacillus sp dan Aspergillus niger yang dapat menjadi pemecah bahan organik tanah.

Selain itu fiksasi nitrogen dan melawan patogen penyebab penyakit tanaman. “Limbah bonggol pisang juga mengandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen, fosfor, dan kalium,” katanya. 

Sementara itu, kata ia, limbah kulit udang mengandung senyawa bernama kitin yang dapat diubah menjadi kitosan dan menjadi sumber karbon organik serta memiliki kemampuan mengatur pelepasan unsur hara ke tanaman.

Selain dibuat dari bahan yang organik, Pupukin! memiliki keunggulan lain seperti meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit karena dikombinasikan dengan daun nimba (Azadirachta indica) yang memiliki aroma khas, kuat, dan mengandung senyawa aktif. 

“Pupukin! juga dapat meningkatkan efektivitas pupuk dalam mengontrol pelepasan hara dan memberikan efisiensi penggunaan dalam jangka panjang serta mengurangi risiko pencemaran air dan tanah,” jelas Prili.

Menurutnya, Produk Pupukin! berbentuk kepingan kubus yang dikemas dengan berat 250 gram. Penggunaan produk Pupukin! Dilakukan dengan cara menugal media tanam kemudian memasukkan satu keping kubus untuk tanaman sayur daun seperti kangkung, bayam, pakcoy, dan selada. 

“Pupukin! mengusung konsep ramah lingkungan karena mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Kami berharap produk ini dapat meningkatkan hasil panen masyarakat di sekitaran Jawa Barat dan Indonesia,” ujarnya. 

Produk Pupukin! Dikemas menggunakan craft standing pouch yang biodegradable, kemasan produk Pupukin! dapat didaur ulang menjadi pot tanaman. “Kemasan Pupukin! dilengkapi dengan QR code yang tersambung pada website resmi Pupukin! yang berisi informasi dan konten edukasi produk pupuk slow release,” tandasnya. 

Produk ini dikembangkan oleh Dira Purwasih (Agribisnis), Prili Alisha (Agribisnis), Rizqia Nadira Ronaldo (Agribisnis), M. Yasyfa Kusumadinata (Teknologi Industri Pertanian), dan Stanislaus Adhi Pramudya (Agroteknologi) dengan dosen Pendamping Vira Kusuma Dewi, M.Sc., PhD. (tha)

No More Posts Available.

No more pages to load.