Pasangan Lansia di Sukamantri Sumedang Harap Cemas Rumahnya yang Nyaris Ambruk

oleh
Bagian-bagian rumah milik pasangan lansia Yaya dan Yayah yang sudah rusak dimakan usia dan diperparah gempa Sumedang beberapa waktu lalu (foto: For Radar Sumedang)

RADARSUMEDANG.id, TANJUNGKERTA – Di tengah dinginnya udara Dusun Sukamantri RT 03 RW 03 Desa Sukamantri yang sering kali tersapu angin kencang, berdiri sebuah rumah semi permanen yang penuh kenangan. Rumah milik Yaya Sukarya (63) dan Yayah Rokayah (60), pasangan lansia yang setia tinggal di sana meski kondisi rumahnya kini sangat memprihatinkan. Tembok dan dinding rumah dari bilik dan kayu sudah lapuk dan atap yang mulai bergeser telah menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang tinggal di dekatnya.

Saat musim hujan tiba, ancaman itu makin nyata. Atap yang disangga oleh kaso-kaso rapuh tak lagi mampu menahan derasnya air hujan. Yaya dan Yayah hanya bisa bergumam lirih setiap kali rembesan air menetes dari langit-langit, membasahi lantai rumah yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung. Jika tidak ada yang berubah, rumah tua ini mungkin akan roboh, mengancam keselamatan mereka yang berteduh di bawahnya.

Sebagai kepala keluarga, Yaya sesungguhnya ingin merenovasi rumah itu. Namun, harapan itu terkubur dalam himpitan ekonomi. Usaha kelontong kecil-kecilan yang dijalankan oleh pasangan lansia ini hanya menghasilkan pendapatan yang pas-pasan. Hasilnya pun sering kali tak menentu, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa ada ruang bagi impian merenovasi rumah.

“Saya mah cuma pasrah saja. Apa daya kami belum mampu untuk memperbaiki rumah ini,” ujarnya sambil memandang atap yang kian menua, seolah bertanya sampai kapan ia bisa bertahan.

Tentu saja, tetangga sekitar pun turut merasa prihatin. Mereka menyarankan agar Yaya dan Yayah mencoba mengajukan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) melalui pemerintahan desa. Dengan harapan, bantuan itu bisa meringankan beban mereka untuk memperbaiki rumahnya yang semakin renta. Yaya dan Yayah menuruti saran itu. Mereka sudah melayangkan permohonan dan ikut didata ketika gempa Sumedang beberapa waktu lalu. Namun hingga saat ini, belum ada tindak lanjut yang memberi kejelasan.

“Saat itu ada pendataan rumah warga yang rusak akibat gempa, saya sempat mengajukan untuk didata. Kami hanya berharap bisa mendapatkan bantuan, entah dari program rutilahu atau bantuan gempa,” tutur Yaya penuh harap.

Kini, Yaya dan Yayah hanya bisa berpasrah, seraya mengirim doa-doa yang barangkali bisa mengetuk hati mereka yang mampu untuk membantu. Di rumah yang nyaris roboh itu, mereka tetap menjalani hari dengan sabar dan ikhlas. Bagi mereka, dinding yang kokoh bukan satu-satunya bentuk perlindungan, melainkan harapan bahwa suatu hari nanti, ada bantuan yang datang untuk memberi mereka rasa aman di rumah tua yang mereka cintai.

Bagi warga Dusun Sukamantri, Yaya dan Yayah adalah bagian dari keluarga besar mereka. Kini, bersama-sama mereka menyimpan asa, berharap tangan-tangan peduli bisa hadir untuk membantu. Sebab, bagi Yaya dan Yayah, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu adalah saksi perjalanan hidup yang mereka tempuh bersama, tempat di mana mereka ingin menghabiskan masa tua dengan damai.(rik)

No More Posts Available.

No more pages to load.