RADARSUMEDANG.id, BUAHDUA – Temuan geologi di wilayah Kabupaten Sumedang nampaknya semakin lengkap sejak ditemukannya tinggalan geologi berupa muntahan bebatuan besar di salah satu wilayah terpencil di Blok Pasir Landak, Dusun Cigalabah, Desa Nagrak, Kecamatan Buahdua.
Sejak ramai dipublikasikan pada tahun 2022 dan memantik para peniliti geologi, tempat yang dinamakan Batu Sanghyang ini masih menjadi misteri asal muasalnya.
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan pada Disparbudpora Kabupaten Sumedang, M Budi Akbar, saat ini pihak Pemdes setempat sudah melakukan penataan untuk akses menuju lokasi situs bebatuan.
Pasalnya untuk mencapai lokasi situs, orang harus menyusuri jalan setapak juga areal persawahan sehingga dibutuhkan unsur kehati-hatian.
“Sejak batu-batu ini ditemukan dan viral, sudah banyak yang berdatangan ke lokasi tersebut. Pihak desa sudah melakukan pembenahan dan penataan lokasi Batu Sanghiang, dengan melakukan penataan sedikit-sedikit, seperti pada sumber airnya, tumbuhan liarnya di sehingga semakin jelas terlihat,” kata Budi saat dikonfirmasi Radar Sumedang di ruang kerjanya, Jumat (11/7/20025).
Selain itu lanjut Budi, selama ini kunjungan ke Batu Sanghyang memang selalu ada dari luar daerah Sumedang.
Padahal informasi ini masih terbatas di kalangan Sumedang juga tapi ternyata ada yang dari Cikampek juga Indramayu dan itu pengunjung umum yang katanya banyak penasaran.
“Tapi setidaknya perputaran ekonomi masyarakat di Desa pasti meningkat, pasti ada masyarakat yang berjualan, kemudian jasa transportasi seperti ojeg juga dibutuhkan. Tinggal publikasi memang yang harus lebih luas lagi, salah satunya melalui media massa dan media sosial,” ujarnya.
Bahkan Budi menceritakan, ada salah pengunjung dari luar Sumedang yang kondisinya sulit berjalan sehingga harus ditandu oleh beberapa orang. Namun saat dirinya mandi di mata yang ada di sekitar komplek bebatuan tersebut, pengunjung yang bersangkutan mendadak bisa berjalan sehingga diduga mata air tersebut mempunyai khasiat.
“Ini pegawai desanya sendiri yang menyaksikan bahwa pengunjung itu dari Indramayu dan untuk ke batu Sanghyang harus ditandu. Kemudian mandi, tiba-tiba bisa berjalan seperti orang sehat yang entah itu sugesti atau bisa memperlancar aliran darah. Tak heran sekarang banyak yang datang ke Situs Batu Sanghyang mungkin karena salah satu cerita itu,” ungkap Budi.
Lebih lanjut dikatakan Budi, struktur acak dan ciri khas bebatuan di Pasir Landak pun sebagaimana diketahui sangat mirip dengan bebatuan di situs Gunung Padang Cianjur.
Yang mana, pada tahun 2022 pihaknya sudah mengukur panjang dan lebar batu-batu yang bergeletakan di lahan seluas setengah hektare. Kebanyakan berbentuk kotak, panjangnya mulai dari 2,5 meter sampai 3,5 meter, dengan ketebalan 60 Cm. Namun rata-rata panjangnya 2,7 meter.
Selain itu, secara jenis struktur batuan yang biasa disebut Columnar Joint ini rupanya bukan batuan biasa. Terlebih struktur batuan ini memiliki dampak ilmu pengetahuan yang sangat tinggi sehingga dapat menarik para akademisi untuk mengetahui lebih dalam mengenai fenomena struktur batuan tersebut.
” Ada sebuh istilah yang dinamakan columnar joint, yang mana itu adalah salah satu fenomena struktur geologi yang terdiri dari kolom-kolom poligonal. Biasanya berbentuk batang-batang poligonal persegi delapan, persegi enam dan tersusun relatif seragam dengan rapi. Akan tetapi saya merasa aneh ketika melihat columnar joint yang ada di Pasir Landak ini tidak tersusun rapi, padahal biasanya tersusun,” bebernya.
Adapun kata Budi, dirinya baru mendengar kabar bahwa ada struktur batu ini sejak tahun 2022, dan hingga saat ini masih belum diketahui apakah sebelumnya pernah ada kajian dari peneliti sebelumnya. Mengingat lokasinya ada di kaki Gunung Tampomas dan kemungkinan sudah ada kajian geologi.
Sementara karakteristik Columnar Joint ini ada yang dimanfaatkan oleh manusia dan ada yang tidak.
Akan tetapi yang dimaksud tidak dimanfaatkan itu masih murni yang berada di alam dan belum tersentuh oleh manusia.
“Jadi karakter batuannya ada yang persegi empat, persegi lima maupun enam. Karena ini berasal dari lahar dingin yang mengeras proses jutaan tahu mengeras menjadi batu yang tadinya cair lama-lama menjadi padat. Kemudian tempat itu dulunya tempat sarang landak yang rumahnya ada di tumpukan batu tersebut sehingga disebut Pasir Landak,” terang Budi. (jim)





