RADARSUMEDANG.id, Jakarta – Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menyebut bahwa akar utama kenaikan harga beras tidak terkait dengan “mafia,” melainkan karena rendahnya produktivitas dan adanya celah dalam rantai distribusi. Ia menekankan bahwa panen yang belum memadai dan tingginya harga gabah merupakan faktor signifikan penyebab stagnasi harga beras.
Sutarto menjelaskan bahwa lemahnya produktivitas di tingkat petani membuat pasokan beras tidak mencukupi kebutuhan pasar, sementara harga gabah di tingkat penggilingan telah melonjak hingga lebih dari Rp6.000 per kilogram. Kondisi ini kemudian diteruskan dalam bentuk harga beras yang tetap tinggi.
Selain itu, faktor biaya tinggi—seperti kenaikan harga pupuk dan bahan bakar minyak (BBM)—memberatkan biaya produksi petani. Karena subsidi pupuk berkurang, petani terpaksa beralih ke pupuk non-subsidi yang lebih mahal, yang secara langsung turut mendorong kenaikan harga gabah.
Dari sisi pelemahan distribusi, ketidakefektifan perantara atau middle men menyebabkan margin keuntungan tidak merata. Perpadi menyatakan bahwa banyak keuntungan disedot oleh aktor di sepanjang rantai pasok, bukan langsung kepada petani maupun konsumen.
Meskipun pemerintah telah melakukan intervensi seperti operasi pasar maupun stabilisasi harga pokok, Perpadi menilai dampak kebijakan tersebut masih terbatas. Bahkan dalam beberapa kasus, operasi pasar belum mampu menurunkan harga secara signifikan, karena masalah penyaluran dan pengaturan harga belum optimal.
Sebagai solusi, Perpadi menyoroti pentingnya reformasi jangka panjang, seperti memperkuat tata kelola distribusi, memperkuat peran Bulog sebagai buffer stock nasional, serta memperbaiki mekanisme penyaluran raskin dan subsidi tepat sasaran agar menstabilkan harga beras sekaligus menjaga kesejahteraan petani dan daya beli rakyat.(Net)





