RADARSUMEDANG.id, KOTA – Suasana kehidupan masyarakat Sunda tempo dulu hadir kembali di Alun-alun Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara, Sabtu (6/9). Gelar Budaya yang diinisiasi Pemerintah Kecamatan Sumedang Utara ini menghadirkan aneka permainan tradisional, rumah bambu zaman dahulu, makanan khas, hingga perkakas rumah tangga masyarakat Sunda.
Mengusung tema “Sumanget Kasumedangan Ngaguar Sajatining Tali Paranti Ti Bihari Ka Kiwari”, kegiatan ini disambut antusias warga dari berbagai kalangan, terutama para pelajar. Mereka dikenalkan kembali pada permainan tradisional seperti galasin, engklek, congklak, egrang, lompat karet, hingga mobil-mobilan bambu.
Rasyan, siswa SD Negeri Tegalkalong, mengaku senang bisa mencoba permainan lama.
“Main galasin rame, seru. Ada juga mobil-mobilan dari bambu. Jadi tahu permainan zaman dulu,” ujarnya.
Selain permainan, tiap desa dan kelurahan menampilkan replika rumah Sunda tempo dulu. Rumah maupun warung sederhana berbahan bambu dengan atap jerami ditata lengkap dengan perkakas rumah tangga, tungku kayu, serta peralatan dapur tradisional.
Lurah Talun, Rinny Mulyati, bahkan menghadirkan konsep Katineung Kelurahan Talun dengan ciri khas nasi dan ikan asin peda bakar.
“Kita mengenang masa kecil sekaligus mengenalkan budaya pada anak-anak,” katanya.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, yang hadir sekaligus membuka acara, menilai Gelar Budaya ini sebagai sarana edukasi.
“Anak-anak bisa belajar bentuk rumah, perkakas, hingga cara orang Sunda menanak nasi. Kegiatan ini bagus untuk mengurangi ketergantungan pada gawai sekaligus menanamkan kecintaan pada budaya,” ujar Dony.
Ia menambahkan, kegiatan ini melibatkan Dinas Pendidikan dengan menugaskan pelajar melakukan observasi.
“Mereka mencatat jenis perkakas, bahan, dan fungsinya. Jadi benar-benar menjadi pengalaman belajar langsung,” katanya.
Tak hanya budaya, acara ini juga dirangkaikan dengan layanan cek kesehatan gratis bagi pengunjung. Setidaknya 50 warga memanfaatkan layanan ini.
“Kami jadi punya data kesehatan masyarakat, sehingga bisa ditindaklanjuti,” imbuhnya.
Melihat antusiasme masyarakat, Dony berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan rutin.
“Alun-alun harus menjadi pusat informasi, pendidikan, dan silaturahmi. Jika terus dijalankan, bisa meningkatkan indeks kebahagiaan dan kesejahteraan warga. Bahkan bisa ditiru kecamatan lain,” ujar Dony. (gun)







