Bank Skill Desa: Menambal Lubang SDM dari Akar Rumput (Bagian 2 Habis)

oleh

Oleh: Naya Sunarya

RADARSUMEDANG.id — Pendidikan dan pelatihan kerap disebut sebagai jalan tol menuju kesejahteraan. Namun, di banyak desa, jalan tol itu belum selesai dibangun. Bahkan, banyak pemuda desa yang belum tahu di mana letak pintu gerbangnya. Di sinilah gagasan Bank Skill Desa menjadi relevan untuk membangun sistem pembelajaran dan pelatihan yang terstruktur, terukur, dan berbasis kebutuhan riil warga desa.

Bank Skill bukan lembaga keuangan, melainkan lembaga investasi keterampilan. Di dalamnya, bukan uang yang disimpan, melainkan potensi, talenta, dan tekad untuk maju. Melalui pendekatan partisipatif, Bank Skill menghimpun data kebutuhan keterampilan setiap dusun, memetakannya dalam profil keahlian warga, lalu menyalurkan program pelatihan yang sesuai dengan potensi ekonomi lokal.

Di Sumedang, banyak anak muda yang mahir mengelas, bertani, atau membuat konten digital, tetapi tidak pernah mendapatkan pelatihan formal. Di sisi lain, koperasi dan UMKM mengeluhkan minimnya tenaga kerja terampil yang siap pakai. Jembatan yang hilang antara dua sisi inilah yang hendak dibangun oleh Bank Skill.

Konsep ini lahir dari refleksi panjang tentang bagaimana membumikan visi pembangunan SDM ala bonus demografi ke dalam program nyata di desa. Selama ini, pelatihan di desa masih bersifat seremonial atau hanya sekadar penyerapan anggaran. Tidak berkelanjutan, tidak terdokumentasi, dan tidak mengarah pada daya saing yang terukur.

Bank Skill mengubah itu. Ia bekerja seperti lembaga talenta, dengan basis data keterampilan yang dikelola oleh kader desa. Pelatihannya modular dan fleksibel. Misalnya, dalam tiga bulan, satu desa bisa melatih 10 pemuda menjadi teknisi AC, tukang las, atau pemandu wisata lokal, lengkap dengan praktik usaha kecil yang menyertainya.

Yang menarik, output Bank Skill bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga jejaring pelaku usaha baru. Di sinilah kemudian lahir ekosistem produktif, seperti koperasi yang memfasilitasi permodalan, BUMDes sebagai penyerap hasil kerja, serta desa yang menciptakan skema insentif berbasis prestasi keterampilan.

Apakah konsep ini bisa direplikasi? Bisa. Tetapi perlu komitmen. Pertama, dari pemerintah desa dan kabupaten untuk menyiapkan regulasi dan anggaran dasar. Kedua, dari lembaga CSR dan dunia usaha untuk bersinergi dalam menyerap lulusan pelatihan. Semuanya terkonsepsi dalam bentuk quadruple atau penta helix yang nyata, bukan sekadar teori. Ketiga, dari warga sendiri yang mau menjadikan keterampilan sebagai tabungan masa depan.

Bank Skill Desa bukan program proyek. Ia adalah cara baru membangun manusia desa: dengan mengembalikan kepercayaan diri, menciptakan peluang kerja di dekat rumah, dan mendorong ekonomi tumbuh dari dalam. Jika setiap desa sekurang-kurangnya memiliki 10 pemuda terlatih setiap tahun, maka Sumedang tidak akan kekurangan SDM unggul dalam 10 tahun ke depan. Mari kita mulai dari sekarang. Dari desa kita sendiri.(*)

*) Warga Sumedang, mantan anggota DPRD Sumedang, Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan

 

No More Posts Available.

No more pages to load.