RADARSUMEDANG.id, TANJUNGKERTA – Di tengah hamparan hijau Desa Kertamekar, Kecamatan Tanjungkerta, berdiri sebuah tempat yang menjadi oase pembelajaran tentang alam dan kewirausahaan: Madu Taman Bunga (MTB) Happiness Farm.
Tak hanya menawarkan keindahan taman dan udara segar, kawasan ini juga menjadi laboratorium alam bagi siapa pun yang ingin belajar memetik rezeki dari bumi.
Tiga komoditas utama dikembangkan di sini, yakni kopi luwak asli dari sumbernya (hewan luwak), budidaya jamur tiram, dan madu trigona. Ketiganya menjadi bagian dari konsep eduwisata yang digagas Amar Abdillah, pendiri Wisata Edukasi Kopi Luwak Sumedang.
“Kami berdiri dengan fokus pada edukasi dan pelatihan. Sudah banyak sekolah dan masyarakat yang kami beri pembelajaran tentang pertanian dan kewirausahaan. Anak-anak bisa langsung praktik memanen jamur, menyedot madu trigona, hingga mengenal proses pembuatan kopi luwak dari hulu ke hilir,” ujar Amar saat ditemui Radar Sumedang belum lama ini.
Hingga kini, lebih dari 1.165 sekolah pernah berkunjung ke lokasi ini. Amar masih mengingat dengan jelas, salah satu rombongan besar datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menggunakan dua bus besar dan melanjutkan perjalanan dengan angkot borongan menuju lokasi.
“Kalau ada sekolah yang anggarannya terbatas, saya sering gratiskan. Saya justru bahagia bisa berbagi ilmu dan pengalaman,” ujarnya sambil tersenyum.
Amar menekankan pentingnya menumbuhkan kesadaran generasi muda bahwa alam bukan hanya tempat belajar, tetapi juga sumber inspirasi dan penghidupan.
“Saya berharap kurikulum sekolah tidak hanya mengejar nilai akademik. Anak-anak perlu memahami bahwa alam bisa membawa rezeki jika kita mau mengolahnya. Jangan sampai punya lahan tapi malah dijual, sementara di masa pensiun justru tak mampu membeli lahan lagi,” tuturnya.
Melalui kegiatan edu trip yang bekerja sama dengan ASITA dan berbagai komunitas wisata, Amar ingin memperkenalkan konsep wisata yang “menyentuh tanah”.
Banyak wisatawan dari luar kota, terutama dari Jakarta, datang untuk menikmati suasana pedesaan: bermain lumpur di sawah, memetik jamur, menyedot madu trigona, dan makan siang sederhana di warung ayam bakar milik warga sekitar.
Selain kegiatan wisata, MTB Happiness Farm juga aktif mengadakan pelatihan budidaya jamur tiram dan pengolahan madu. Amar berharap lebih banyak masyarakat yang terinspirasi untuk memanfaatkan potensi alam di sekitarnya.
“Alam sudah menyediakan segalanya. Tinggal bagaimana kita mau mengolahnya,” ucapnya.
Menurut Amar, pihaknya juga terbuka untuk berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, hingga BUMN melalui program CSR dalam kegiatan eduwisata.
Kini, produk-produk unggulan dari MTB Happiness Farm seperti kopi luwak Sumedang, madu trigona, dan olahan jamur tiram sudah sering tampil dalam bazar UMKM di berbagai kota, termasuk akan hadir di Festival Kopi Sumedang mendatang.
“Yang kami jual bukan sekadar produk,” tegas Amar, “tetapi cerita tentang bagaimana alam, kerja keras, dan pengetahuan bisa berpadu menjadi sumber kebahagiaan,” pungkasnya. (jim)





