Oleh: Naya Sunarya*
RADARSUMEDANG.id –– Saya teringat almarhum mantan Bupati Sumedang, kakanda Dr. H. Endang Sukandar, M.Si., yang akrab disapa dengan akronim HES. Beliau adalah sahabat sekaligus rekan seperjuangan saya sejak tahun 1992, ketika bersama-sama menjadi anggota DPRD Sumedang. Hingga akhir hayatnya, persahabatan itu tetap terjaga dengan penuh kehangatan, tidak lekang oleh waktu maupun dinamika sosial yang terus berubah.
Suatu ketika, dalam obrolan santai di rumah almarhum di Sindangpalay yang asri—tempat kami sering berkumpul dan berdiskusi—beliau menyampaikan pandangan futuristiknya tentang Sumedang. Jauh ke depan, HES telah bercita-cita agar Sumedang dibangun dengan konsep pembangunan wilayah perbatasan sebagai etalase utama daerah.
Namun sayang, ketika beliau ditakdirkan menjadi Bupati Sumedang, Allah SWT berkehendak lain. Almarhum dipanggil pulang ke alam baka, sehingga cita-cita yang telah lama diimpikannya itu belum sempat terwujud.
Kini, apa yang dulu dibayangkan almarhum HES terasa semakin nyata. Ketika seseorang memasuki wilayah Sumedang dari arah Subang, Majalengka, Indramayu, Garut, maupun Bandung, apa yang pertama kali mereka lihat dan rasakan? Jawabannya bukan alun-alun, bukan pusat kota, dan bukan pula ikon modern Jatinangor. Yang pertama kali tampak justru kawasan perbatasan: kondisi jalan, rumah penduduk, kios-kios kecil, bentang alam di kiri dan kanan jalan, serta aktivitas warganya.
Di sanalah persepsi awal tentang Sumedang terbentuk. Dengan kata lain, wajah perbatasan adalah wajah Sumedang.
Pertanyaannya, apakah wajah tersebut sudah mencerminkan Kabupaten Sumedang yang terus membaik dalam berbagai aspek? Ataukah justru belum menggambarkan kemajuan yang kita cita-citakan bersama?
Realitas yang Banyak Terabaikan
Berbicara tentang perbatasan bukan semata soal estetika. Ia adalah cerminan pemerataan, keadilan pembangunan, dan komitmen daerah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal.
Kita kerap mendengar narasi kemajuan di kawasan tengah dan selatan Sumedang: pusat pemerintahan yang semakin tertata, akses jalan yang membaik, perkembangan teknologi digital pemerintahan, hingga geliat ekonomi di Jatinangor. Namun pada saat yang sama, banyak wilayah perbatasan—mulai dari Tomo, Ujungjaya, Buahdua, Surian, Wado, Jatinunggal, hingga kawasan Jatigede—masih menghadapi realitas yang berbeda.
Di sejumlah daerah, jalan kewilayahan belum sepenuhnya layak. Jaringan internet belum menjangkau seluruh wilayah, dan fasilitas publik masih terbatas. Aktivitas ekonomi rakyat pun masih sebatas bertahan hidup melalui kios kecil, pertanian skala kecil, atau perikanan tradisional. Padahal, wilayah-wilayah inilah yang pertama kali dilihat oleh orang luar ketika memasuki Sumedang.
Jika wajah perbatasan kusam, maka citra Sumedang pun ikut kusam. Sebaliknya, jika wajah perbatasan kuat dan berdaya, maka persepsi terhadap Sumedang akan ikut menguat.
Perbatasan sebagai Etalase dan Arah RPJPD 2025–2045
Sumedang kini memasuki periode pembangunan jangka panjang hingga tahun 2045. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), telah digariskan arah besar pembangunan: peningkatan kualitas sumber daya manusia, konektivitas wilayah, inovasi, pemerataan pembangunan, serta penguatan identitas daerah.
Untuk mencapai cita-cita jangka panjang tersebut, Sumedang tidak bisa hanya menata pusat kota dan wilayah tertentu. Wilayah perbatasan harus dijadikan etalase utama Sumedang.
Mengapa demikian? Karena di sanalah terjadi tiga hal penting:
-
Persepsi eksternal terbentuk; wajah perbatasan menentukan reputasi daerah.
-
Pemerataan pembangunan diwujudkan; kemajuan perbatasan akan menurunkan kesenjangan.
-
Ekonomi rakyat bertumbuh; potensi lokal di perbatasan sangat besar, hanya belum terorganisasi secara optimal.
Dengan demikian, pembangunan perbatasan bukan sekadar program sektoral, melainkan strategi struktural untuk masa depan Sumedang.
Tiga Kawasan Perbatasan Prioritas
Setidaknya terdapat tiga kawasan perbatasan yang harus menjadi lokomotif perubahan.
Pertama, Koridor Utara: BUTOM (Buahdua–Ujungjaya–Tomo).
Kawasan ini menyimpan kekuatan agroindustri dan logistik. Jika ditata dengan baik, koridor utara dapat menjadi gerbang modern Sumedang dari arah Subang dan Indramayu. Konsep hybrid tourism desa juga berpotensi berkembang dan menjadi penopang hinterland Rebana Metropolitan.
Kedua, Koridor Timur: Wado–Jatinunggal–Jatigede.
Inilah berlian wisata Sumedang yang belum direkayasa secara maksimal. Bendungan Jatigede memiliki potensi besar sebagai pusat perikanan, energi, serta pemanfaatan air baku yang dapat menjadi pemasok signifikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kawasan ini berpeluang menjadi destinasi unggulan jika ditata sebagai ring wisata terpadu. Sayangnya, hingga kini Jatigede masih ditata setengah hati dan belum memiliki outlet produk perikanan yang representatif sebagai buah tangan bagi para pengunjung.
Ketiga, Koridor Barat: CIMATANG (Cimanggung–Jatinangor).
Meski relatif lebih maju, kawasan ini merupakan pintu gerbang utama dari Bandung Raya. Perannya sangat strategis sebagai pemasok inovasi, sumber daya manusia, dan teknologi bagi dua koridor lainnya. Perbatasan barat seharusnya menjadi showcase modernitas Sumedang berbasis digital. Namun, hingga kini wajah kawasan perkotaan yang sesungguhnya belum sepenuhnya tampak.
Ketiga koridor tersebut sejatinya membentuk satu rantai nilai: inovasi, produksi, hingga wisata dan distribusi.
Sinkronisasi Kebijakan Berbasis Kawasan
Selama ini, pembangunan kerap berjalan secara sektoral—kesehatan berjalan sendiri, pertanian sendiri, PUPR sendiri, pariwisata sendiri. Akibatnya, wilayah perbatasan tidak tumbuh sebagai satu ekosistem utuh.
Sudah saatnya Sumedang mengubah pendekatan pembangunan: wilayah, bukan semata OPD; kawasan, bukan sekadar program; gerbang, bukan hanya titik-titik proyek.
Pembangunan perbatasan harus menjadi agenda prioritas yang disusun dalam rencana induk kawasan dan dikelola secara terkoordinasi lintas perangkat daerah. Dengan cara ini, setiap rupiah anggaran akan menghasilkan dampak ganda, baik bagi kesejahteraan masyarakat maupun citra daerah.
Mengapa Opini Ini Penting?
Karena pembangunan perbatasan sering dipandang sebagai pelengkap, padahal dampaknya sangat strategis untuk:
-
menurunkan angka kemiskinan,
-
membangkitkan ekonomi lokal,
-
menampilkan Sumedang sebagai daerah maju dari segala arah,
-
memperkuat identitas dan kebanggaan daerah,
-
membuka peluang investasi baru,
-
serta mencapai tujuan besar RPJPD 2025–2045.
Apabila wajah perbatasan berubah, Sumedang pun akan berubah.
Penutup
Saya percaya Sumedang memiliki energi perubahan yang kuat. Banyak kemajuan telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pekerjaan besar belum selesai. Kini saatnya menentukan arah besar berikutnya: membangun Sumedang dari pintu masuknya.
Karena pada akhirnya, wajah perbatasan adalah wajah Sumedang. Dan wajah itu harus mencerminkan masa depan yang kita cita-citakan bersama—maju, inklusif, modern, dan berkeadilan.(*)
*)Penulis adalah warga Sumedang, mantan anggota DPRD Sumedang, dan Ketua Dewan Pengawas Fokus Sinergi Kemitraan.





