RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Susu ditetapkan sebagai komponen wajib dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna meningkatkan asupan protein hewani masyarakat. Namun, realisasi kebijakan tersebut masih menghadapi kendala serius akibat rendahnya produktivitas susu nasional, yang salah satunya dipengaruhi keterbatasan pakan berkualitas bagi sapi perah.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk “Indonesian Dairy Farming Scale Up Strategy” yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad), Kampus Jatinangor, Rabu (10/12).
Seminar ini menjadi forum strategis untuk merumuskan penguatan sektor persusuan nasional melalui kolaborasi lintas negara dan sinergi para pemangku kepentingan.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Ruminansia Perah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Dr. Argi Argiris. Ia menegaskan bahwa peningkatan produksi susu dalam negeri menjadi kunci dalam mendukung ketahanan gizi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Melalui kerja sama United States Indonesia Dairy Partnership (USIDP), diharapkan lahir peternak sapi perah yang kompeten. Program USIDP Jawa Barat dapat menjadi titik tolak membangun masa depan persusuan Indonesia yang lebih produktif dan maju,” ujarnya.
Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita menegaskan, kerja sama internasional tersebut menjadi kerangka formal penguatan kolaborasi di bidang pendidikan, riset akademik, peningkatan kapasitas teknis, serta pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kemitraan ini sejalan dengan upaya meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional.
“Unpad meyakini perubahan yang dibangun melalui kerja sama ini akan menjadi fondasi penting bagi peningkatan hasil pembangunan nasional maupun regional. Kemitraan dengan USDEC dan NMDA memiliki nilai strategis dalam mendorong transfer pengetahuan global, praktik terbaik, serta modernisasi sistem produksi dan tata niaga persusuan,” jelas Prof. Arief.
Sementara itu, Market Access and Regulatory Affairs Manager USDEC, Aimee Pinkerton, menyampaikan keterlibatan USDEC dalam USIDP dilandasi komitmen untuk mendukung peningkatan akses gizi masyarakat Indonesia melalui konsumsi susu, terutama bagi anak-anak.
“USDEC bersama NMDA, Wisconsin Department of Agriculture Trade and Consumer Protection, serta New Mexico State University berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan pelaku industri persusuan di Indonesia, termasuk Unpad,” ujarnya.
Ia menambahkan, USDEC memilih berkolaborasi dengan Unpad karena dinilai mampu mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan kepada para pelaku usaha persusuan.
“Unpad menjadi mitra strategis US Dairy dalam menghadirkan manfaat nyata bagi industri persusuan Indonesia,” kata Aimee.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari bidang persusuan dan agribisnis, serta dimoderatori Ketua BUMN Center of Excellence Unpad, Prof. Popy Rufaidah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Siti Rochani, turut memaparkan berbagai tantangan pengembangan sapi perah di Jawa Barat. Materi lain disampaikan oleh spesialis penyuluhan sapi perah dari New Mexico State University.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Unpad dengan USDEC dan NMDA untuk membentuk aliansi strategis dalam memperluas jangkauan serta aksesibilitas program pelatihan USIDP.
Kerja sama ini diarahkan pada peningkatan kapasitas peternak sapi perah skala kecil dan menengah melalui pendidikan serta pelatihan praktik terbaik, guna mendorong peningkatan kualitas dan produksi susu nasional. (tha)





