RADARSUMEDANG.id, CISITU – Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti (UNWIM), Raizal Fahmi, menyampaikan bahwa tren penanaman pohon di areal bekas tambang kini semakin masif dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Upaya ini dinilai penting sebagai bagian dari pemulihan fungsi lingkungan yang rusak akibat aktivitas pertambangan.
Raizal menyebut, gerakan tersebut semakin menguat sejak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengajak masyarakat untuk mencegah alih fungsi lahan hijau, termasuk lahan eks pertambangan yang pada awalnya merupakan kawasan vegetasi alami.
Selain itu, bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Sumatera dan Aceh akibat kerusakan hutan turut memantik kesadaran masyarakat untuk lebih aktif menjaga kelestarian vegetasi hutan, mulai dari wilayah hulu hingga hilir.
“Kita tahu, lahan eks tambang yang karakteristiknya kering masih bisa diupayakan untuk dikembalikan atau direhabilitasi,” kata Raizal saat dikonfirmasi Radar Sumedang di sela kegiatan penanaman bibit pohon di lahan eks tambang Pasiringkik, Desa Cisitu, Kecamatan Cisitu, baru-baru ini.
Menurutnya, upaya reklamasi atau pengembalian areal bekas tambang ke kondisi lingkungan awal sangat penting dilakukan secara masif. Bahkan, ia berharap langkah tersebut diterapkan di seluruh lahan eks tambang tanpa terkecuali.
“Dalam peraturan pemerintah sudah jelas ada kewajiban bagi pelaku usaha tambang untuk mengembalikan fungsi lahan seperti sedia kala. Caranya melalui reklamasi. Ini bukan sekadar imbauan, tapi kewajiban,” ujarnya.
Raizal menjelaskan, perlakuan atau treatment penanaman di areal tambang berbeda-beda, tergantung jenis tambangnya. Baik tambang pasir, batu bara, maupun emas, masing-masing memerlukan penanganan khusus.
“Langkah awalnya adalah mengembalikan mikroorganisme di dalam tanah. Setelah mikroorganisme tumbuh, barulah bisa dilanjutkan dengan penanaman tumbuhan yang lebih besar. Jadi setiap jenis tambang punya metode penanganan sendiri,” jelasnya.
Terkait tingkat keberhasilan reklamasi, Raizal memastikan upaya tersebut dapat dilakukan, salah satunya dengan metode kompos block.
“Seharusnya lahan bisa kembali fit. Untuk bekas galian yang menjadi danau, bisa dimanfaatkan sebagai kolam. Sedangkan areal yang masih kering, tetap bisa diupayakan untuk ditanami,” ucapnya.
Ia menambahkan, kompos block berasal dari bahan organik hasil komposting yang dibentuk sebagai media tanam. Metode ini memungkinkan tanaman langsung memperoleh unsur hara dan mikroorganisme yang dibutuhkan.
“Dengan kompos block, media tanam tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang miskin unsur hara. Unsur haranya dipenuhi terlebih dahulu melalui kompos,” pungkasnya. (jim)







