RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Produk halal dan berbasis thibbun nabawi yang dikembangkan PT Herba Penawar Alwahida Indonesia (HNI) terus menarik minat masyarakat, termasuk di wilayah Jatinangor. Melalui jaringan Branch Center (BC) HNI Jatinangor, peluang usaha ini dinilai semakin relevan bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang profesi.
Owner Branch Center (BC) HNI Jatinangor, Ustadz Mashuri Afandi, menjelaskan bahwa bisnis HNI dirancang agar dapat dijalankan siapa pun tanpa harus meninggalkan aktivitas utama sehari-hari.
“Menjalankan usaha HNI sangat fleksibel. Tidak perlu kantor atau toko, cukup dari rumah. Sistem affiliate sudah disiapkan, termasuk konten promosi, sehingga mitra tidak direpotkan dengan stok barang, pengemasan, hingga pengiriman,” ujar Mashuri, baru-baru ini.
Ia menambahkan, modal awal dalam bisnis HNI relatif kecil dan tidak memberatkan. Mitra juga tidak perlu memikirkan biaya operasional besar seperti menggaji pegawai, mengurus produksi, hingga perizinan usaha.
“Semua sudah ditangani perusahaan. Administrasi, pencatatan transaksi, hingga urusan pajak dan legalitas sudah rapi dan transparan. Mitra tinggal fokus menjalankan usahanya,” katanya.
Selain kemudahan sistem, HNI juga mengusung konsep bisnis berbasis nilai-nilai Islam dan Sunnah. Produk-produk yang dipasarkan merupakan hasil riset dan pengembangan yang mengedepankan kehalalan serta manfaat kesehatan.
Pegiat Komunitas Pengusaha HNI Jatinangor yang juga Owner Hania Café Jatinangor, H. Ridwan Solichin, menilai konsep tersebut menjadi keunggulan utama HNI dibandingkan bisnis lain.

“HNI bukan sekadar bisnis, tetapi gerakan ekonomi umat. Sudah seharusnya umat Islam membesarkan dan membela produk sendiri, agar manfaat ekonominya kembali kepada umat,” ungkap Kang Rinso, sapaannya.
Menurutnya, banyak mitra HNI yang awalnya memulai usaha dari rumah, bahkan dari dapur atau garasi, namun kini mampu mengelola omzet hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah per bulan.
“Kendala utama orang berbisnis biasanya soal modal. Di HNI, modal bukan syarat utama. Bisa dimulai dari kemampuan masing-masing, bahkan dari modal seadanya,” tambahnya.
Kang Rinso juga menekankan pentingnya sistem pembinaan dalam bisnis HNI. Setiap mitra mendapatkan pendampingan dari mentor yang siap membimbing selama 24 jam.
“Sistemnya jelas, tinggal mengikuti arahan leader dan menjalankan sistem yang sudah terbukti. Inilah yang membuat HNI minim risiko gagal,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai keuntungan utama dari bisnis HNI bukan hanya materi, melainkan keberkahan.
“Ini usaha gotong royong sesama muslim. Harapannya bukan hanya untung sesaat, tetapi berkelanjutan dan bisa diwariskan kepada anak cucu,” pungkas Kang Rinso.
Dengan konsep bisnis rumahan, sistem digital, serta nilai keberkahan yang diusung, HNI Jatinangor dinilai menjadi salah satu alternatif usaha yang menjanjikan bagi masyarakat di tengah tantangan ekonomi saat ini.(Rik)







