RADARSUMEDANG.ID, TOMO – Pergerakan tanah melanda Dusun Caricangkas, RT 003 RW 003, Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo. Akibat kejadian tersebut, dua rumah warga dilaporkan ambruk, sementara empat rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (2/2) dini hari, saat wilayah Sumedang diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi. Selain faktor curah hujan, abrasi sungai yang berlangsung dalam waktu lama diduga turut memperparah kondisi tanah di kawasan tersebut.
Salah satu warga terdampak, Nunu Nugraha, pemilik rumah yang ambruk, menuturkan bahwa tanda-tanda pergerakan tanah sudah terasa sejak sekitar pukul 02.00 WIB. Warga yang sedang tertidur dikejutkan oleh suara retakan tanah. Longsor kemudian terjadi menjelang pagi hari, sekitar pukul 05.30 WIB, setelah salat Subuh.
“Dapur itu baru dibangun dan sebelumnya sudah dua kali disangga serta satu kali dipasang cerucuk,” ujar Nunu saat ditemui di kediamannya, Selasa (3/2).
Akibat longsor tersebut, bagian dapur dan kamar mandi rumah Nunu serta sejumlah perabotan rumah tangga hancur terbawa material longsor. Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp60 juta hingga Rp70 juta.
“Bagian rumah saya yang rusak itu dapur. Untungnya dapur tidak menyatu dengan bangunan utama, meskipun posisinya menempel. Sekarang sementara mengungsi ke rumah adik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dusun Caricangkas, Agiska, menjelaskan bahwa pergerakan tanah di wilayah tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak November 2025. Pihak dusun dan pemerintah desa telah melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta mengajukan permohonan bantuan ke instansi terkait.
Menurut Agiska, warga bersama pemerintah desa telah berupaya melakukan penanganan sementara, seperti pemasangan cerucuk dan pembangunan tembok penahan tanah sederhana secara gotong royong. Namun, upaya tersebut terkendala keterbatasan material.
“Saat ini ada sekitar enam rumah yang terancam. Empat rumah mengalami retakan cukup parah, sementara dua rumah lainnya telah ambruk dengan tingkat kerusakan sekitar 50 persen,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut sangat berbahaya jika rumah tetap dihuni, mengingat pergerakan tanah kini dapat terjadi secara tiba-tiba, bahkan tanpa hujan. Dengan cuaca yang masih ekstrem, warga khawatir akan terjadinya longsor susulan dengan dampak yang lebih luas.
“Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat segera membantu, terutama untuk pembangunan tembok penahan tanah atau bronjong di wilayah ini,” kata Agiska.
Sebagai langkah antisipasi, seluruh warga yang rumahnya terdampak telah diarahkan untuk mengungsi ke rumah saudara atau tetangga terdekat. Saat ini, rumah yang ambruk telah dikosongkan.
Total warga yang mengungsi berjumlah tujuh orang dari dua keluarga.
Agiska menambahkan, saat BPBD melakukan peninjauan pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB, masih terdengar suara retakan dari struktur bangunan yang tersisa. Kondisi tersebut semakin menguatkan kekhawatiran akan potensi longsor lanjutan.
“Demi keselamatan bersama, kami meminta warga tidak memaksakan tinggal di rumah yang kondisinya sudah tidak aman,” tuturnya. (gun)







