RADARSUMEDANG.id, KOTA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang terus memperkuat program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat produktif guna mendorong para mustahik atau penerima zakat agar mampu naik kelas menjadi muzakki atau pemberi zakat.
Ketua Baznas Kabupaten Sumedang Ayi Subhan Hafas mengatakan, program pemberdayaan yang dijalankan Baznas tidak lagi berfokus pada bantuan bersifat konsumtif, melainkan diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan kapasitas ekonomi masyarakat penerima zakat.
“Kami memiliki target utama agar bantuan yang diberikan bersifat produktif. Harapannya, mustahik yang awalnya sebagai penerima zakat, ke depan bisa berubah menjadi muzakki,” kata Ayi, Senin (9/2).
Salah satu program unggulan yang telah berjalan adalah Z-Auto (Zakat Otomotif). Program ini menyasar pelaku usaha bengkel dengan memberikan pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) serta dukungan permodalan usaha.
“Untuk satu bengkel Z-Auto, kita bantu modal sebesar Rp20 juta. Saat ini sudah ada tiga bengkel yang berjalan,” ujarnya.
Selain Z-Auto, Baznas Sumedang juga menggulirkan program Z-Mart atau warung zakat. Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan modal usaha, tetapi juga disertai dengan pendampingan penataan warung, manajemen keuangan, hingga pengelolaan perputaran modal.
“Kemarin kami sudah membantu 50 warung, masing-masing mendapatkan bantuan Rp7,5 juta. Total anggaran yang disalurkan mencapai Rp375 juta,” kata Ayi.
Di sektor peternakan, Baznas Sumedang mengelola Balai Ternak yang berlokasi di wilayah Cijeungjing. Program ini melibatkan 20 orang mustahik, di mana setiap peserta memelihara 20 ekor domba dalam satu kandang komunal.
“Mereka menanam rumput bersama, merawat ternak secara gotong royong, dan pemasaran juga kami bantu. Alhamdulillah sudah beberapa kali panen dan para mustahik memperoleh keuntungan,” ujarnya.
Ayi menegaskan, seluruh program pemberdayaan yang dijalankan Baznas Sumedang berada dalam skema MK3 (Mustahik Kemandirian dan Kewirausahaan) serta selalu disertai pendampingan intensif dari pendamping program.
“Kami serius dalam pendampingan. Bantuan itu harus berkembang, bukan habis. Tanpa pendampingan, biasanya bantuan tidak berkelanjutan,” tuturnya.
Sementara itu, program Balai Ternak di Kecamatan Jatigede telah berjalan hampir tiga tahun. Dalam program tersebut, setiap domba yang dijual wajib diganti kembali sehingga jumlah ternak tetap terjaga.
“Boleh bertambah, tapi tidak boleh berkurang. Setelah dijual harus beli lagi. Ini untuk menjaga keberlanjutan usaha,” ucapnya.
Kedepan, kata Ayi, Baznas Sumedang memastikan setiap program pemberdayaan ekonomi akan terus melibatkan pendamping guna memastikan pelaksanaan program berjalan optimal, berkelanjutan, dan tepat sasaran. (gun)







