www.radarsumedang.id/, KOTA BANDUNG — Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jawa Barat, H. Tedy Rusmawan, AT, MM mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera mengambil langkah konkret dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan 1447 H. Ia menilai, kenaikan harga sembako yang terjadi saat ini berpotensi memberatkan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat periode 2024–2029 itu menyoroti sejumlah komoditas yang mengalami lonjakan signifikan. Harga daging ayam misalnya, naik dari Rp35 ribu menjadi Rp44 ribu per kilogram. Telur ayam turut merangkak dari Rp28 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram. Sementara daging sapi kini menembus Rp150 ribu per kilogram.
Tak hanya itu, harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari Rp38 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Cabai rawit domba pun ikut terdongkrak dari Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram di pasar tradisional mengikuti tren kenaikan sejumlah bahan pokok penting (bapokting) lainnya.
“Memasuki bulan Ramadan, tingkat permintaan masyarakat cenderung meningkat. Jika tidak diantisipasi sejak awal, kenaikan harga ini tentu akan semakin memberatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” ujar Tedy Rusmawan, dalam keterangan persnya Selasa (17/2/2026) .
Mantan Ketua DPRD Kota Bandung periode 2019–2024 tersebut mendorong Pemprov Jabar untuk memetakan kecenderungan kenaikan harga bapokting dengan berkaca pada pola distribusi dan permintaan beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pengalaman sebelumnya dapat menjadi rujukan untuk menyusun strategi pengendalian harga yang lebih efektif.
Sebagai solusi konkret, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Daerah Pemilihan Jabar 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi) itu mendorong pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk menggelar gerakan pangan murah, pasar murah, hingga bazar murah yang menyasar langsung masyarakat.
“Langkah ini penting agar rantai pasok atau distribusi bisa dipangkas. Dengan intervensi langsung pemerintah, harga di tingkat konsumen dapat lebih terkendali,” tegasnya.
Di sisi lain, Tedy juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas harga beras melalui Operasi Pasar yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia menilai kebijakan tersebut cukup efektif menahan lonjakan harga beras di pasaran.
Saat ini, harga beras SPHP berada di kisaran Rp12.000–Rp12.500 per kilogram, sementara beras medium relatif stabil di angka Rp14.000 per kilogram. “Ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah hadir melalui operasi pasar yang konsisten, harga bisa relatif terkendali,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kenaikan komoditas lainnya, Tedy mendorong agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait turun langsung ke lapangan, khususnya Dinas Koperasi dan UMKM (Diskop UMKM), Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin), serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP).
Menurutnya, koordinasi lintas sektor sangat dibutuhkan agar upaya stabilisasi harga tidak berjalan parsial. “Pengawasan distribusi, ketersediaan stok, hingga kelancaran pasokan harus dipastikan sejak sekarang. Jangan sampai masyarakat baru merasakan dampaknya ketika harga sudah terlanjur melonjak tinggi,” tandasnya.
Sebagai wakil rakyat dari Fraksi PKS di DPRD Jawa Barat, Tedy menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pengendalian inflasi daerah, khususnya menjelang momentum Ramadan yang setiap tahun menjadi periode rawan kenaikan harga kebutuhan pokok.(rik/adv)





