RADARSUMEDANG.id, KOTA – Tim Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Selasa (10/3).
Program ini memperkenalkan teknologi Edible Coating untuk memperpanjang masa simpan buah manggis hasil panen petani setempat.
Kegiatan tersebut melibatkan peneliti dari ITB, Universitas Padjadjaran (Unpad), serta Chulalongkorn University Thailand. Program ini bertujuan membantu petani meningkatkan kualitas dan daya tahan manggis setelah dipanen.
Prof. Dr. Ir. Lienda Aliwarga, M.Eng yang menjadi narasumber sekaligus pendamping tim DPMK ITB mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk penerapan langsung hasil riset kampus kepada masyarakat.
“Pada saat ini kami melakukan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cipancar untuk petani manggis,” ujar Prof. Lienda.
Dalam pelatihan tersebut, para petani mendapatkan materi sekaligus praktik langsung penggunaan teknologi Edible Coating. Metode yang digunakan adalah penyemprotan larutan pelapis pada kulit buah manggis.
Para petani terlihat antusias mengikuti kegiatan. Bahkan tiga orang petani mendapat kesempatan mencoba langsung praktik penyemprotan larutan pelapis di hadapan peserta lainnya.
Ketua Tim Program Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Teknologi Industri ITB, Dr. Dian Shofinita menjelaskan, bahan utama larutan Edible Coating cukup sederhana dan mudah didapatkan oleh petani.
“Larutan yang digunakan berasal dari lilin lebah yang dilelehkan lalu dicampur dengan beberapa bahan hingga menjadi cairan yang dapat melapisi buah,” jelasnya.
Lapisan tersebut berfungsi melindungi kulit manggis dari proses pembusukan terlalu cepat sehingga masa simpan buah menjadi lebih panjang.
Selama ini, manggis hasil panen petani Desa Cipancar umumnya hanya mampu bertahan sekitar dua minggu sebelum kulitnya mengeras dan kualitasnya menurun.
Dengan teknologi Edible Coating, masa simpan buah dapat diperpanjang hingga mendekati empat minggu.
“Dari umur simpan dua minggu, kalau di-coating ini bisa mendekati empat minggu. Formula masih kami perbaiki, kemungkinan bisa lebih panjang lagi,” kata Prof. Lienda.
Ia menambahkan, teknologi pelapisan ini dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti penyemprotan, penyelupan, atau dioleskan secara manual. Namun metode penyemprotan dipilih karena dinilai lebih merata dan praktis bagi petani.
“Teknologi ini dinilai penting karena manggis dari Desa Cipancar telah dipasarkan hingga ke luar daerah bahkan menuju pasar ekspor melalui jalur distribusi Tasikmalaya. Dengan masa simpan lebih lama, petani memiliki waktu lebih fleksibel untuk menjual hasil panennya,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Sagara Tandang yang juga Kepala Dusun Sagaramanik, Sukarya mengaku pelatihan tersebut memberikan wawasan baru bagi para petani.
“Alhamdulillah ini membuka wawasan. Selain pengawetan manggis, kami juga bisa menyampaikan unek-unek kami untuk perkembangan manggis di sini,” ujarnya.
Di Dusun Sagaramanik sendiri terdapat sekitar 35 petani manggis yang selama ini memasok hasil panennya kepada pengepul, salah satunya melalui jaringan distribusi di Puspahiang, Tasikmalaya.
Namun para petani masih menghadapi sejumlah kendala seperti kualitas buah yang belum maksimal, buah rontok sebelum matang, hingga gangguan hama seperti tupai dan monyet.
Dosen Teknik Pertanian Universitas Padjadjaran, Farah Nuranjani mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang peduli terhadap pengembangan pertanian lokal.
“Kolaborasi memang dari berbagai pihak, ITB, Unpad, dan Chulalongkorn,” katanya.
Menurutnya, masih terdapat celah dalam penanganan pascapanen manggis yang selama ini belum banyak diterapkan di tingkat petani. Melalui program ini diharapkan teknologi yang dikembangkan kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya petani manggis di Sumedang. (tha)
Prof. Dr. Ir. Lienda Aliwarga, M.Eng saat menjadi narasumber kegiatan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.






