BERITA SINGKAT
- Banjir di Bandung Timur meluas selama lima hari akibat luapan Sungai Citarum dan Citarik.
- Sejumlah sekolah dasar terendam, pembelajaran dialihkan ke sistem daring.
- Ketinggian air di sekolah mencapai 50 cm hingga 1 meter.
- Permukiman warga terdampak, aktivitas terganggu hingga ambulans kesulitan melintas.
- Pemkab Bandung janji percepat penanganan dan perbaikan infrastruktur.
SOLOKANJERUK — Banjir yang melanda kawasan Bandung Timur dalam lima hari terakhir kian meluas dan berdampak serius terhadap aktivitas pendidikan serta kehidupan warga. Luapan Sungai Citarum dan Sungai Citarik menyebabkan sejumlah sekolah dasar terendam, sehingga kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara dan dialihkan ke sistem daring.
Di SDN Bojong Emas 3, Jalan Raya Sapan, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, air banjir dilaporkan masuk hingga ke dalam ruang kelas dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. Kondisi ini membuat lingkungan sekolah tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar.
Heti (46), orang tua murid di sekolah tersebut, mengatakan banjir kali ini merupakan salah satu yang terparah. Meski banjir terjadi hampir setiap tahun, durasi dan dampaknya saat ini dinilai jauh lebih besar.
“Setiap tahun memang selalu banjir, tapi yang sekarang ini sudah lima hari belum surut. Ini termasuk yang paling lama, paling luas, dan airnya juga sampai masuk ke kelas,” ujar Heti, Rabu (15/4/2026).
Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah terpaksa menghentikan pembelajaran tatap muka. Para siswa kini mengikuti kegiatan belajar dari rumah dengan berbagai keterbatasan fasilitas.
Heti juga mengungkapkan bahwa banjir tidak hanya melanda satu sekolah. Setidaknya tiga sekolah dasar di kawasan Sapan turut terdampak genangan air.
“Bukan cuma di sini, di SDN Sapan 2 dan SDN Sapan 3 juga sama terendam. Jadi memang hampir semua sekolah di sini terdampak,” katanya.
Sementara itu, di SD Negeri Sapan 3, Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, ketinggian air bahkan mencapai 60 sentimeter hingga 1 meter dan menggenangi seluruh area sekolah.
Pantauan di lokasi menunjukkan bangku sekolah diselamatkan dengan cara disusun di atas meja. Namun, air tetap masuk ke ruang kelas hingga ruang guru, sehingga aktivitas belajar tidak memungkinkan dilakukan secara langsung.
Penjaga sekolah, Yati Sumiati (50), menyebut banjir sudah terjadi selama beberapa hari terakhir. Air sempat surut, namun kembali naik setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Airnya datang dari arah jalan dan luapan sungai, lalu masuk ke area belakang sekolah sampai akhirnya menggenangi ke dalam. Sempat turun sebelumnya, tapi setelah hujan deras malam hari, air naik lagi dengan cepat,” ujarnya.
Akibatnya, ratusan siswa di SDN Sapan 3 harus menjalani pembelajaran jarak jauh sejak awal pekan. Kondisi ini menambah daftar sekolah terdampak banjir di wilayah Bandung Selatan dan Timur.
Di lokasi lain, banjir juga merendam permukiman warga di Desa Sumber Sari RT 01/RW 13, Kecamatan Ciparay. Genangan air yang cukup tinggi bahkan dimanfaatkan anak-anak untuk berenang di jalan, sementara warga lainnya berupaya mendorong kendaraan yang mogok akibat terendam.
Heru (30), warga setempat, mengatakan banjir sangat menghambat aktivitas, bahkan dalam situasi darurat.
“Ambulans saja sampai harus didorong karena jalannya terendam. Ini sangat menyulitkan, apalagi kalau ada yang sakit,” kata Heru.
Ia menambahkan, warga telah berupaya menarik perhatian pemerintah, termasuk melalui siaran langsung di media sosial agar kondisi di lapangan segera ditangani.
Menurut Heru, banjir yang terus berulang diduga akibat kondisi tanggul Sungai Citarum yang sudah tidak mampu menahan debit air. Di beberapa titik, tanggul dilaporkan mengalami kerusakan.
“Benteng sungainya sudah banyak yang copot. Mungkin itu yang bikin air gampang meluap ke permukiman,” ujarnya.
Dengan banjir yang telah memasuki hari kelima dan belum surut, warga berharap adanya penanganan serius dan solusi jangka panjang agar bencana tahunan ini tidak terus berulang dan merugikan sektor pendidikan serta kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan pemerintah daerah akan mengoptimalkan penanganan banjir di sejumlah kecamatan terdampak.
Ia menyebut telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Gubernur Jawa Barat guna mempercepat penanganan.
“Sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam mengatasi banjir yang berdampak luas,” ungkapnya.
Dadang menambahkan, sejumlah wilayah terdampak cukup parah di antaranya Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, Katapang, hingga Margahayu.
Ia memastikan kerusakan infrastruktur seperti tanggul jebol yang masih bisa ditangani melalui APBD akan segera diperbaiki.
“Yang bisa ditangani melalui APBD akan langsung kami kerjakan. Tapi untuk penanganan permanen, harus ada intervensi dari pemerintah pusat,” ujarnya.
(Kus)






