- Upacara Adat Ngalaksa digelar selama 6 hari di Bale Adat Rancakalong.
- Tahun ini dilaksanakan oleh Rurukan Adat Desa Nagarawangi.
- Ngalaksa merupakan tradisi syukuran hasil panen yang telah ada sejak 1938.
- Ritual diwarnai seni Tarawangsa, jentreng, dan prosesi adat lainnya.
- Tokoh adat berharap generasi muda terus melestarikan tradisi ini.
RANCAKALONG – Upacara Adat Ngalaksa kembali digelar di Bale Adat Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Tradisi tahunan ini akan berlangsung selama enam hari, mulai 5 hingga 10 Mei 2026.
Tahun ini, pelaksanaan Ngalaksa mengusung tema “Nata Budaya, Mupusti Tradisi, Ajen Inajen Adat Leluhur” dan menjadi giliran Rurukan Adat Desa Nagarawangi sebagai penyelenggara.
Tokoh Adat Budaya Rancakalong, Oma Sutisna, mengatakan Ngalaksa merupakan kegiatan rutin tahunan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah.
Menurutnya, istilah Ngalaksa berasal dari kata “Ngalaksanakeun sukuran” yang telah dilaksanakan sejak tahun 1938.
Pada awalnya, tradisi ini bermula dari kegiatan para tokoh adat yang menebar benih di lahan pesawahan dengan diiringi musik jentreng dan tarawangsa. Setelah 30 hari dilakukan proses tandur hingga akhirnya panen dengan hasil memuaskan.
Dari hasil tersebut, masyarakat kemudian bermusyawarah untuk menggelar syukuran melalui seni budaya tarawangsa sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan panen.
“Alhamdulillah sampai sekarang tradisi upacara Ngalaksa terus dilaksanakan secara turun-temurun di lima desa, yakni Rancakalong, Nagarawangi, Pasirbiru, Cibunar, dan Pamekaran,” ujar Oma saat ditemui Radar Sumedang di sela pembukaan Ngalaksa, Selasa (5/5/2026).
Dalam pelaksanaannya, selain diiringi alat musik tradisional seperti tarawangsa dan jentreng, warga juga mengumpulkan hasil bumi secara gotong royong untuk kebutuhan ritual, seperti kelapa, bakakak ayam kampung, rempah-rempah, serta hasil pertanian lainnya.
Selama pelaksanaan, berbagai rangkaian kegiatan adat digelar. Pada hari pertama, padi telah disimpan di Bale Adat sebagai bagian dari prosesi awal.
Warga juga turut serta dalam ritual seperti Ngibing (menari) sambil mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur.
Puncak acara akan dilaksanakan melalui prosesi “Dilaksa”, yakni proses tumbu padi secara tradisional yang dilakukan bersama-sama dengan iringan musik tarawangsa.
Namun demikian, Oma mengakui bahwa tradisi Ngalaksa mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman, terutama dengan penggunaan mesin dalam proses penggilingan padi.
Meski begitu, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi dengan menyerahkan hasil panen untuk dilaksa dalam upacara adat.
“Kami berharap generasi muda dapat terus melestarikan tradisi Ngalaksa agar tidak hilang. Ini adalah bentuk rasa syukur kita atas hasil padi yang menjadi beras, karena tanpa padi kita tidak bisa makan,” jelasnya.
(jim)





