Dedi Mulyadi Pantau Jalur Sumedang–Wado, Soroti Banner di Pohon dan Risiko Longsor

oleh
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menegur warga yang memaku pohon untuk pemasangan spanduk usaha material di ruas jalan provinsi tepatnya di sekitar Situraja.
BERITA SINGKAT

  • Gubernur Jabar Dedi Mulyadi memantau kondisi jalan provinsi saat Milangkala Tatar Sunda.
  • Peninjauan dilakukan di jalur Sumedang–Wado–Majalengka.
  • Pemprov menertibkan banner yang dipaku di pohon sempadan jalan.
  • Aktivitas warga yang merusak pohon di tepi jalan turut menjadi perhatian.
  • Pemprov Jabar menyoroti pentingnya menjaga pohon besar untuk mencegah longsor.

SUMEDANG – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memanfaatkan kegiatan karnaval budaya Milangkala Tatar Sunda sebagai momentum monitoring dan evaluasi pembangunan, khususnya terhadap kondisi infrastruktur jalan provinsi.

Dalam peninjauan tersebut, Dedi Mulyadi secara langsung menelusuri ruas jalan Sumedang–Wado–Majalengka untuk mengecek kondisi badan jalan hingga aspek keselamatan pengguna jalan.

Selain itu, perhatian juga diarahkan terhadap ketertiban kawasan sempadan jalan dan kelestarian lingkungan di sepanjang jalur tersebut.

“Jadi sudah jelas, yang menjadi konsen Pak Gubernur adalah jalan provinsi, termasuk sempadannya. Banyak ditemukan pemasangan banner yang dipaku di pohon, itu langsung kami tertibkan,” kata Herman kepada sejumlah awak media, Selasa (5/5/2026).

Menurut Herman, keberadaan jalan provinsi memiliki fungsi strategis bagi mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi antarwilayah.

Ia mencontohkan jalur Sumedang–Wado–Majalengka yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas masyarakat, mulai dari distribusi hasil pertanian, perdagangan, hingga akses menuju kawasan pendidikan dan pariwisata.

Karena itu, kualitas jalan dinilai tidak hanya dilihat dari kondisi aspal, tetapi juga keselamatan ruang di sekitarnya.

Menurutnya, sempadan jalan yang tertata dapat menjaga jarak pandang pengendara, meminimalkan risiko kecelakaan, serta menciptakan koridor lalu lintas yang aman dan nyaman.

Dalam monitoring tersebut, Pemprov Jabar juga menemukan sejumlah aktivitas warga yang dinilai berpotensi merusak lingkungan.

Salah satunya adalah aktivitas penggorengan di sebuah warung tahu yang terlalu dekat dengan pohon besar di tepi jalan hingga membuat batang pohon menghitam.

“Ada warung tahu yang penggorengannya dekat pohon sampai pohonnya menghitam. Kalau dibiarkan bisa mati, padahal itu pohon besar seperti mahoni. Itu langsung kita tertibkan,” terang Herman.

Ia menegaskan, pohon-pohon besar di sepanjang jalur Situraja hingga Wado memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menahan erosi, menjaga kestabilan tanah di kawasan tebing, menyerap air hujan, hingga memberikan keteduhan bagi pengguna jalan.

Di sejumlah titik kawasan perbukitan, keberadaan pohon besar juga dinilai menjadi benteng alami yang membantu mengurangi risiko longsor.

“Jika pohon-pohon itu rusak atau mati, dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan badan jalan provinsi yang berada di bawahnya,” ucapnya.

Dedi Mulyadi juga menyoroti kebiasaan sebagian warga yang memasang banner, baliho, maupun pengumuman dengan cara memaku batang pohon di tepi jalan.

Menurut Herman, tindakan tersebut dapat merusak jaringan kulit batang, menghambat pertumbuhan, dan membuat pohon rentan terserang penyakit.

“Pak Gubernur mengingatkan, pohon-pohon besar itu aset lingkungan yang harus dijaga bersama. Jangan sampai hanya untuk kepentingan sesaat, pohon justru rusak,” imbuh Herman.

Selain itu, Pemprov Jabar juga menaruh perhatian terhadap adanya penebangan pohon di kawasan sempadan jalan wilayah Situraja.

Pemerintah akan menelusuri status kepemilikan pohon tersebut untuk memastikan tidak ada pelanggaran aturan.

Herman menegaskan, penebangan pohon di area tebing sangat berbahaya karena dapat memicu pergerakan tanah yang berdampak langsung terhadap badan jalan provinsi.

(jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.