BERITA SINGKAT
- DKPP Kota Bandung mengungkap masih adanya peternakan sapi dan domba di tengah permukiman padat.
- Sejumlah kandang ternak bahkan berada di dalam bangunan bertingkat dan gang sempit.
- Mayoritas peternak fokus pada penggemukan hewan kurban menjelang Iduladha 2026.
- DKPP memperketat pengawasan kesehatan ternak untuk mencegah penyebaran PMK.
- Sebanyak 184 petugas pemeriksa hewan kurban disiapkan untuk pengawasan di lapangan.
BANDUNG – Di tengah padatnya permukiman dan bangunan perkotaan, aktivitas peternakan hewan ternyata masih bertahan di sejumlah sudut Kota Bandung. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mengungkap keberadaan peternak sapi dan domba yang tersembunyi di kawasan padat penduduk hingga berada di dalam bangunan bertingkat menjelang momentum Iduladha 2026.
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan keberadaan peternak di Kota Bandung masih cukup aktif meski jumlahnya tidak banyak. Sebagian besar peternak bergerak di sektor penggemukan hewan kurban yang mulai ramai beberapa bulan sebelum Hari Raya Iduladha.
“Masih ada peternak di Kota Bandung. Bahkan uniknya ada yang berada di tengah permukiman padat dan tidak terlihat dari luar. Ada juga kandang yang posisinya di dalam bangunan sampai lantai atas,” ujar Gin Gin, Kamis (7/5/2026).
Kawasan Bandung Timur menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki aktivitas peternakan cukup banyak. Namun karakter peternak di perkotaan berbeda dengan daerah sentra peternakan pada umumnya karena lebih fokus pada pembesaran ternak, bukan pembibitan atau pengembangbiakan.
Gin Gin menjelaskan, sebagian besar hewan ternak didatangkan dari luar daerah seperti Jawa Tengah dan wilayah Bandung Raya untuk kemudian dipelihara sementara sebelum dijual menjelang Iduladha. Sistem penggemukan dipilih karena keterbatasan lahan dan tingginya kebutuhan pasar kurban di Kota Bandung.
Menurutnya, keberadaan kandang di area perkotaan itu sering kali tidak disadari masyarakat. Selain berada di gang-gang sempit permukiman, beberapa kandang juga disamarkan di dalam bangunan tertutup sehingga tidak tampak seperti peternakan pada umumnya.
Meski berada di tengah kota, Gin Gin memastikan komunikasi dengan peternak lokal berjalan cukup baik. Pemerintah bahkan memiliki grup komunikasi khusus bersama peternak untuk memantau kondisi kesehatan ternak dan distribusi hewan kurban di lapangan.
“Kalau peternak Kota Bandung relatif sudah saling kenal dengan kami. Mereka biasanya aktif melapor kalau ada hewan sakit, minta pendampingan pemeriksaan atau saat akan mendatangkan sapi dari luar daerah,” katanya.
DKPP Kota Bandung juga rutin melakukan monitoring langsung ke kandang-kandang ternak yang tersebar di berbagai wilayah kota. Pengawasan dilakukan untuk memastikan kondisi hewan tetap sehat dan aman, terutama di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK).
Gin Gin mengungkapkan ancaman PMK memang sudah jauh menurun dibanding masa wabah nasional tahun 2022. Namun Kota Bandung tetap berstatus daerah waspada karena tingginya mobilitas ternak yang masuk dari berbagai daerah menjelang Iduladha.
Karena itu, setiap hewan yang masuk ke Kota Bandung diwajibkan memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) serta bukti vaksinasi PMK dari daerah asal. Pemeriksaan ulang juga akan dilakukan oleh tim DKPP saat hewan tiba di lokasi penjualan maupun kandang penggemukan.
“Yang kita lakukan sebenarnya re-check. Jadi walaupun sudah diperiksa di daerah asal, kita pastikan lagi kesehatannya di Kota Bandung,” ucapnya.
Gin Gin menambahkan, tahun ini terdapat kecenderungan peternak dan pedagang menunda pemasukan ternak hingga mendekati hari raya. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya biaya pakan dan kekhawatiran terhadap risiko penyakit jika ternak terlalu lama berada di kandang.
Situasi itu membuat pengawasan menjadi lebih menantang karena waktu pemeriksaan hewan semakin singkat, sementara jumlah ternak yang masuk diperkirakan tetap tinggi seperti tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 16 ribu hingga 17 ribu ekor.(dsn)







