Harga Plastik Naik, Perajin Bongsang Tahu di Sumedang Kebanjiran Pesanan Jelang Iduladha

oleh
Para perajin bongsang tahu di Dusun Andir, Desa Rancamulya, membuat anyaman bongsang, Kamis (14/5). Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, para perajin kebanjiran pesanan untuk kebutuhan distribusi tahu dan daging kurban.

BERITA SINGKAT

  • Perajin bongsang tahu di Sumedang kebanjiran pesanan menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
  • Bongsang banyak digunakan untuk distribusi tahu dan daging hewan kurban.
  • Kenaikan harga plastik disebut memicu meningkatnya permintaan anyaman bambu.
  • Pesanan bongsang meningkat hingga 30 persen dibanding hari biasa.
  • Sekitar 60 keluarga di Dusun Andir menggantungkan penghasilan dari kerajinan bongsang.

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, para perajin anyaman bongsang tahu di Kabupaten Sumedang kebanjiran pesanan dari konsumen. Selain digunakan sebagai keranjang tahu, bongsang juga banyak dipesan untuk kebutuhan pendistribusian daging hewan kurban.

Meningkatnya permintaan tersebut disebut-sebut dipicu oleh naiknya harga plastik di pasaran dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu diduga sebagai dampak konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut dirasakan para perajin anyaman bongsang di Dusun Andir, Desa Rancamulya, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Dampak kenaikan harga plastik membuat pesanan bongsang meningkat hingga 30 persen dibanding hari biasa.

Salah seorang perajin, Dadang Gunawan, mengaku kondisi tersebut menjadi berkah tersendiri bagi para perajin bongsang.

“Tentu saja dampak naiknya harga plastik jadi berkah bagi kami perajin bongsang. Jadi lebih giat lagi untuk meningkatkan penghasilan keluarga,” ujar Dadang, Kamis (14/5).

Dadang menjelaskan, di wilayahnya terdapat sekitar 60 keluarga yang aktif menganyam bongsang berbahan dasar bambu tali. Setiap keluarga mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 150 keranjang bongsang per hari.

Menurutnya, produk anyaman tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Sumedang, tetapi juga telah dikirim ke luar pulau.

“Di sini memang kebanyakan perajin bongsang, karena turun-temurun dari nenek moyang, jadi sudah membudaya,” tuturnya.

Penjualan bongsang dilakukan dalam dua skema. Untuk satu kantet atau 100 keranjang yang disetor kepada pengepul dihargai Rp50 ribu. Sementara untuk pembeli yang datang langsung ke perajin dijual seharga Rp60 ribu per kantet.

“Kalau pengepul biasanya ada yang memberi uang muka terlebih dahulu, nanti barangnya diambil. Kalau beli langsung ke perajin, harganya beda lagi, bisa Rp60 ribu per kantet,” katanya.

Para perajin berharap permintaan bongsang terus meningkat hingga mendekati Hari Raya Iduladha, sehingga dapat membantu mendongkrak pendapatan masyarakat perajin di wilayah tersebut.

(gun)

No More Posts Available.

No more pages to load.