RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Kenaikan harga kedelai impor hingga mendekati Rp11.000 per kilogram memaksa sebagian perajin tahu, di Kota Bandung mencari berbagai cara agar usaha mereka tetap berjalan. Salah satu langkah yang kini dilakukan adalah menyesuaikan ukuran produk tanpa menaikkan harga jual, demi menjaga daya beli konsumen sekaligus mempertahankan pelanggan.
Tekanan biaya produksi dirasakan langsung oleh pelaku usaha, Akang di sentra industri tahu Cibuntu, salah satu kawasan penghasil tahu terbesar di Kota Bandung. Harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.500 hingga Rp10.000 per kilogram kini terus merangkak naik, membuat beban operasional semakin berat.
Akang mengungkapkan kenaikan harga bahan baku dipicu oleh ketergantungan terhadap kedelai impor yang harganya mengikuti perkembangan pasar global. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memperbesar biaya yang harus ditanggung para perajin.
Menurutnya, meski menghadapi kenaikan biaya produksi, banyak pelaku usaha memilih tidak langsung menaikkan harga jual tahu. Mereka khawatir kenaikan harga akan menurunkan minat beli masyarakat yang selama ini menjadi pelanggan tetap.
Ia mengatakan sebagai jalan tengah, sebagian perajin melakukan efisiensi dengan mengurangi ukuran produk. Strategi yang dianggap lebih memungkinkan dibandingkan menaikkan harga jual secara langsung yang berisiko membuat konsumen beralih ke produk lain.
Kondisi ini mendapat perhatian dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan kenaikan harga kedelai menjadi tantangan serius karena pemerintah daerah memiliki ruang yang terbatas untuk mengendalikan harga komoditas impor.
Farhan menjelaskan harga kedelai saat ini sudah berada di atas Rp10.000 per kilogram dan bahkan mendekati Rp11.000 per kilogram. Karena sebagian besar kebutuhan kedelai masih berasal dari luar negeri, harga sangat dipengaruhi mekanisme pasar internasional.
“Harga kedelai itu sekarang tidak bisa ditolong. Sudah di atas Rp10.000 per kilogram, bahkan saya dengar mendekati Rp11.000 per kilogram. Sayangnya, kalau harga barang impor memang ikut mekanisme pasar,” ujar Farhan, Jumat (12/6/2026).
Farhan mengatakan langkah yang paling memungkinkan dilakukan saat ini, membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi produksi agar mampu bertahan menghadapi lonjakan harga bahan baku. Efisiensi dinilai menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berupaya memastikan aktivitas perdagangan tetap berjalan lancar. Kelancaran distribusi di berbagai titik penjualan dinilai penting agar produk tahu dan tempe tetap tersedia bagi masyarakat.
Pemkot juga berupaya menjaga daya beli warga agar konsumsi produk berbahan dasar kedelai tidak mengalami penurunan signifikan. Stabilnya permintaan dianggap dapat membantu pelaku usaha mempertahankan tingkat produksi.
“Dari sisi demand, kita akan menjaga agar para konsumen yang biasa membeli kuliner yang menggunakan tahu dan tempe tetap memiliki daya beli yang tinggi. Sehingga walaupun harganya agak naik, produk masih bisa terbeli oleh masyarakat,” kata Farhan.
Bagi masyarakat Bandung, tahu dan tempe bukan sekadar lauk harian yang terjangkau, tetapi juga sumber protein utama yang banyak dikonsumsi berbagai kalangan. Karena itu, keberlangsungan produksi kedua komoditas, memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan pangan warga.
Akang menambahkan industri tahu dan tempe juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pekerja dan pelaku UMKM. Jika kenaikan harga kedelai berlangsung dalam waktu lama tanpa adanya stabilisasi, tekanan terhadap sektor usaha kecil berpotensi semakin besar.
Para perajin berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi untuk menjaga stabilitas harga kedelai. Sementara menunggu kondisi membaik, mereka memilih bertahan dengan berbagai penyesuaian agar roda usaha tetap berputar dan pasokan tahu bagi masyarakat tidak terhenti.(dsn)






