RADARSUMEDANG.id, SITURAJA – Warga Desa Bangbayang, Kecamatan Situraja, kini memiliki akses alternatif keluar-masuk desa setelah ruas jalan penghubung Bangbayang-Dayeuhluhur, Kecamatan Ganeas, resmi dibuka melalui program Bakti Siliwangi Manunggal Satata Sariksa (BSMSS) Kodim 0610/Sumedang, Kamis (23/7). Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.
Sebelumnya, akses menuju desa yang kerap disebut “Desa Diujung Dunia” itu hanya mengandalkan jalur Loji-Bangbayang sepanjang 10,4 kilometer.
Kondisi jalan yang rawan longsor, terutama di segmen Bangbayang, kerap menghambat aktivitas warga bahkan menyebabkan desa terisolasi selama beberapa hari.
Kepala Desa Bangbayang, Umar, mengatakan kehadiran jalan baru tersebut menjadi solusi penting bagi masyarakat, terutama saat jalur utama terputus akibat bencana.
“Aktivitas warga sering terganggu karena adanya longsor, bahkan pernah terisolasi selama tiga hari. Dengan adanya jalan Bangbayang-Dayeuhluhur ini bisa menjadi akses alternatif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari total rencana pembangunan jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer, saat ini baru terealisasi sekitar 385 meter. Meski demikian, jalan tersebut sudah membuka peluang besar bagi pengembangan wilayah.
“Melalui jalan ini sekitar 40 hektare lahan akan terakses. Ada sawah, perkebunan kopi, dan lahan lainnya yang selama ini belum optimal karena belum ada akses jalan. Selain itu, jarak menuju Ganeas dan Sumedang kota juga menjadi lebih dekat dibanding melalui jalur Bangbayang-Loji,” katanya.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan pembangunan jalan tersebut bukan hanya membuka konektivitas antarwilayah, tetapi juga mempercepat mobilitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian.
“Jalan ini akan mempermudah arus orang dan barang, mempermudah mengangkut hasil pertanian maupun perkebunan, serta memudahkan akses masyarakat menuju sekolah, layanan kesehatan, dan berbagai aktivitas lainnya,” kata Dony.
Menurutnya, ruas jalan sepanjang 385 meter itu dibangun melalui kolaborasi TNI dan masyarakat dengan semangat gotong royong, sehingga mampu menekan biaya pembangunan.
“Dengan anggaran sekitar Rp500 juta, jalan sepanjang 385 meter beserta sebagian drainasenya dapat dibangun. Kalau tanpa semangat manunggal dan gotong royong, tentu biayanya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Dony berharap semangat kebersamaan yang tumbuh melalui program BSMSS terus terjaga sehingga masyarakat merasa memiliki dan menjaga hasil pembangunan tersebut.
“Saya juga sudah menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum untuk segera menindaklanjuti agar jalan ini cepat fungsional. Sayang jika sudah dibangun tetapi belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Intinya, setiap kegiatan pembangunan harus secepatnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya. (gun)





