RADARSUMEDANG.ID — Sejumlah pelaku UMKM yang tergabung di Forum Silaturahmi Komunikasi UMKM Unggulan (FKSU) Sumedang mendapat ruang untuk didorong masuk pasar modal nasional.
Mereka berkolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memberikan pelatihan kepada 100 pelaku UMKM unggulan yang sudah memiliki legalitas pendukung
Ketua FKSU Sumedang, Hida Nurul Milah menyampaikan, para pelaku UMKM yang menjadi peserta pada kegiatan yang berkolaborasi dengan BEI ini merupakan pelaku UMKM hasil kurasi yang dilakukan sejak Februari 2026.
“Jujur saja ini kesempatan bagi UMKM Sumedang dan targetnya 100 pelaku UMKM Sumedang dengan legalitas yang jelas dipersiapkan menjadi pelaku usaha berskala ekspor,” kata Nurul disela Gebyar legalitas dan pelatihan keamanan pangan UMKM kabupaten Sumedang kolaborasi Forum UMKM dengan BEI di Aula Tampomas PPS, Selasa 28 Juli 2026.
Adapun kata Nurul, 100 pelaku UMKM ini adalah produk-produknya yang sudah melalui kriteria dan telah memenuhi syarat pangan industri rumah tangga (PIRT).
Dalam hal ini lanjutnya, FKSU diberikan amanah oleh bursa efek untuk mendampingi para pelaku UMKM sehingga output yang didapat dari 100 peserta ini menjadi UMKM yang lebih naik kelas dari skala unggulan daerah menjadi skala untuk ekspor dan masuk pasar modal.
“Artinya kalau untuk makanan, itu harus tahan lebih dari 7 hari, jadi harus lama dan skalanya harus ke ekspor dengan uji nutrisi berstandar internasional. Seperti kita ketahui, kendala kita selama ini untuk ekspor adalah mendapatkan uji nutrisi berskala internasional sehingga ini satu-satunya kesempatan bagi kami,” ujarnya.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Iding Pardi, menjelaskan pentingnya legalitas bagi pelaku usaha agar tidak hanya sekadar bertahan hidup. Ia mengumpamakan legalitas seperti surat-surat kendaraan.
“Kalau kendaraan tidak punya surat, bisa jalan tapi tidak bisa jauh, selalu was-was, nilainya pun rendah. Begitu juga usaha, kalau tidak punya legalitas tidak akan bisa dipercaya, tidak bisa berkembang luas,” ungkap Iding.
Data menunjukkan saat ini terdapat 65 juta UMKM di Indonesia yang menyumbang 61% Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja. Oleh karena itu, pertumbuhan UMKM sangat menentukan kemajuan perekonomian nasional.
BEI berharap dukungan ini menjadi langkah awal agar UMKM Sumedang perlahan tumbuh menjadi perusahaan besar yang nantinya bisa melantai di bursa efek.
“Kami tidak hanya mengedukasi investasi, tapi juga membimbing perusahaan tumbuh dengan tata kelola yang baik. Mulai dari legalitas, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran,” ucapnya.
Sementara, Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila mengingatkan pelaku usaha untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.
“Kita tidak tahu kapan rezeki besar datang. Bisa jadi sekarang usaha masih kecil, tiba-tiba melesat punya ribuan pegawai. Kalau saat itu datang tapi legalitas belum lengkap, sayang sekali,” sebut Fajar.
Fajar pun menjamin bahwa Pemerintah Kabupaten Sumedang sendiri terus mendukung kemajuan UMKM melalui berbagai program, seperti Kredit Usaha Rakyat Daerah (KURDA) dengan bunga hanya 3% di mana 8% sisanya ditanggung pemerintah.
Selain itu, Pemda juga mewajibkan seluruh instansi pemerintah untuk membeli kebutuhan konsumsi dari produk UMKM lokal.
“Gunakan teknologi dan media sosial untuk mem-branding produk. Era sekarang kita yang harus jemput bola, bukan menunggu pembeli datang. Semoga dari sini lahir CEO-CEO hebat asal Sumedang yang mendunia,” tutup Fajar. (jim)





