DPKP Sumedang Sarankan Petani Mulai Menanam Palawija di Tengah Kemarau Panjang

oleh
PALAWIJA : Petani menanam palawija saat lahan sawah mengalami kesulitan air.

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Ancaman El Nino dan potensi musim kemarau berkepanjangan mendorong Pemerintah Kabupaten Sumedang mengubah strategi budidaya pertanian. Petani tidak lagi didorong untuk bergantung pada komoditas padi, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang mengarahkan petani melakukan diversifikasi tanaman dengan mengembangkan komoditas palawija yang relatif membutuhkan lebih sedikit air.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Kabupaten Sumedang, Iwan Gustiawan mengatakan, penyesuaian pola tanam menjadi penting agar ancaman kekeringan tidak berujung pada gagal panen dan penurunan pendapatan petani.

“Yang penting produksi pangan tetap berjalan. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk padi, bisa dialihkan ke komoditas yang lebih sesuai,” ujar Iwan, Senin (10/8).

Menurutnya, pola tanam tidak bisa diseragamkan untuk seluruh wilayah. Pemerintah daerah melakukan pemetaan berdasarkan kondisi wilayah, indeks pertanaman (IP), serta ketersediaan air untuk menentukan komoditas yang paling sesuai dikembangkan.

Ia mencontohkan wilayah Jatinunggal yang sejumlah arealnya masuk dalam kategori IP satu. Kondisi tersebut membuat petani perlu mempertimbangkan komoditas alternatif dibandingkan memaksakan penanaman padi.

“Di Jatinunggal contohnya, sudah ada wilayah yang masuk IP satu sehingga kami arahkan ke komoditas lain. Petani tidak perlu memaksakan karena harus sesuai dengan pemetaan,” katanya.

Palawija seperti jagung, ubi jalar dan ubi kayu menjadi sejumlah pilihan yang dapat dikembangkan ketika ketersediaan air untuk tanaman padi semakin terbatas. Strategi tersebut sekaligus diharapkan menjaga aktivitas ekonomi petani selama musim kemarau.

Potensi komoditas palawija di Sumedang sendiri cukup besar. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sumedang, produksi jagung pipilan pada 2025 mencapai 79.565 ton. Sementara produksi ubi kayu tercatat sekitar 88.575 ton.

Adapun ubi jalar memiliki potensi tersendiri melalui komoditas Ubi Cilembu. Pengembangannya saat ini mencakup sekitar 460 hektare dengan produksi mencapai sekitar 7.820 ton per tahun.

Iwan menilai, potensi tersebut perlu terus dikembangkan sebagai alternatif sumber pendapatan petani, khususnya ketika kondisi lahan dan ketersediaan air tidak memungkinkan untuk budidaya padi.

“Kalau sawah hanya mengandalkan satu kali panen tentu risikonya lebih besar. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kalau memungkinkan bisa dua kali panen atau menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap musim kemarau,” ujarnya.

Selain diversifikasi tanaman, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah pengamanan pangan melalui penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD).

Saat ini, stok CPPD Kabupaten Sumedang mencapai sekitar 321,1 ton beras. Jumlah tersebut berada di atas kebutuhan minimal cadangan pangan daerah yang dipatok sekitar 220 ton.
Cadangan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi berbagai kondisi darurat, mulai dari bencana alam, kerawanan pangan hingga gangguan produksi akibat kondisi cuaca.

Penyaluran CPPD dilakukan berdasarkan usulan dari pemerintah desa yang selanjutnya diverifikasi melalui kecamatan dan petugas terkait.

Dengan kombinasi diversifikasi komoditas dan penguatan cadangan pangan, Pemkab Sumedang berharap ancaman El Nino tidak hanya dihadapi melalui penanganan kekeringan, tetapi juga dengan mengubah pola produksi pertanian agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim. (gun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.