RADARSUMEDANG.id, CIMALAKA – Kreativitas dan semangat nasionalisme ditunjukkan warga RW 2 Dusun Mandalaherang, Desa Mandalaherang, Kecamatan Cimalaka, dalam menyambut Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
Warga setempat membentangkan bendera Merah Putih raksasa sepanjang kurang lebih 300 meter di atas ruas jalan lingkungan RW 2. Bendera tersebut dipasang dengan ditopang puluhan batang bambu yang berdiri di sepanjang jalan.
Selain bendera Merah Putih, warga juga mempercantik lingkungan dengan berbagai ornamen, mulai dari lampu kerlap-kerlip, kerajinan tangan hingga hiasan yang memanfaatkan hasil alam.
Tokoh masyarakat setempat, Atep Dahrum (64), mengatakan pemasangan bendera raksasa tersebut bukan kegiatan yang dilakukan secara mendadak. Gagasan itu sudah direncanakan sejak peringatan HUT RI tahun sebelumnya, namun baru dapat direalisasikan pada 2026.
“Sebetulnya waktu Agustus 2025 sudah ada niat, tapi baru terlaksana tahun 2026 ini. Jadi program ini bukan mendadak, tetapi sudah diprogramkan setahun sebelumnya,” ujar Atep, Jumat (14/8).
Menurutnya, bendera tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter dan dibuat secara gotong royong oleh warga. Bahan kain terlebih dahulu dibeli secara swadaya, kemudian dijahit oleh Ketua RT Cece Saripudin bersama istrinya, Euis Juariah.
“Panjangnya kurang lebih 300 meter. Yang menjahit Pak RT dan Bu RT. Kami membeli bahan, kemudian dijahit oleh Ibu RT,” katanya.
Atep menuturkan, bendera dibuat menggunakan kain Satin. Sementara proses pemasangan hingga dekorasi lingkungan turut didukung kemampuan warga, termasuk Ketua RW yang memiliki keahlian di bidang dekorasi.
Bendera raksasa tersebut mulai dipasang pada akhir Juli 2026. Proses pemasangannya berjalan lancar karena mendapat dukungan dan kekompakan masyarakat.
“Tidak ada kesulitan dalam pemasangan karena kekompakan warga. Antusias warga RW 2 khususnya memang soliditasnya sangat tinggi. Sinergitasnya juga sangat tinggi,” ungkapnya.
Untuk merealisasikan seluruh kegiatan tersebut, warga menghabiskan anggaran sekitar Rp6 juta. Dana tersebut berasal dari sumbangan warga serta para donatur.
Sementara itu, Ketua RT Cece Saripudin (59), mengatakan proses menjahit bendera dilakukan bersama istrinya, Euis Juariah (52), sejak awal Juli. Keduanya menjahit secara bergantian di sela-sela waktu luang.
“Dijahit mulai awal Juli, saya sama istri bergantian menjahit kalau ada waktu luang. Saya merasa bangga dan terharu bisa menyelesaikan tugas menjahit bendera Merah Putih ini,” kata Cece.
Ia berharap keberadaan bendera raksasa tersebut tidak sekadar menjadi hiasan lingkungan dalam menyambut HUT ke-81 RI, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan memperkuat rasa nasionalisme masyarakat.
Warga berharap semarak peringatan kemerdekaan di lingkungan mereka dapat menjadi momentum untuk terus menjaga gotong royong, persatuan, serta kecintaan terhadap Tanah Air. (gun)







