RADARSUMEDANG.id, JATIGEDE – Pemerintah Kabupaten Sumedang terus membenahi infrastruktur menuju kawasan sentra mangga untuk mendukung distribusi hasil pertanian sekaligus membuka akses wisata ke perkebunan mangga.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan, perbaikan dilakukan pada sejumlah ruas jalan menuju kawasan sentra mangga di wilayah Kaleci yang meliputi Desa Kadu, Lebaksiuh dan Cintajaya, Kecamatan Jatigede. Selain jalan, pemerintah juga membangun jembatan di Desa Kadu yang melintasi Sungai Cilutung menuju wilayah Panyingkiran, Kabupaten Majalengka.
“Mulusnya infrastruktur jalan ke sentra mangga itu selain untuk menunjang transportasi dan mengangkut hasil bumi termasuk mangga, juga supaya wisatawan bisa langsung datang ke sentra mangga Sumedang,” kata Dony, Rabu (16/9).
Pengembangan akses tersebut sejalan dengan potensi mangga Gedong Gincu yang menjadi salah satu komoditas unggulan Sumedang. Bahkan, perkembangan komoditas tersebut tidak terlepas dari perubahan kebiasaan petani dalam memanen dan memasarkan mangga.
Ketua Kelompok Tani Mangga Saluyu, Didi Cardiman (40), warga Leuwihieum, Desa Lebaksiuh, mengatakan, pada awalnya petani hanya mengenal mangga Gedong dan lebih banyak memetik buah dalam kondisi mentah atau setengah matang untuk dijual kepada bandar.
“Dulu mangga gedong yang matang di pohon diberikan begitu saja kepada yang lewat saat sedang panen. Kami memilih memetik yang setengah matang untuk dijual kepada para bandar,” ujar Didi.
Menurut Didi, sekitar awal 2000-an sejumlah petani mulai mencoba menjual mangga Gedong yang dibiarkan matang di pohon. Ternyata, buah dengan tingkat kematangan tersebut mendapat respons pasar karena memiliki warna khas kemerahan bercampur kuning.
“Mangga gedong yang matang di pohon itu ada warna kemerahan bercampur kuning dan saat dijual ke pasaran ternyata banyak permintaan,” katanya.
Warna merah pada kulit buah yang menyerupai warna gincu kemudian menjadi asal penyebutan Gedong Gincu. Sejak itu, petani mulai mengembangkan pola panen mangga dengan tingkat kematangan lebih tinggi untuk mendapatkan nilai jual yang lebih baik.
Harga mangga yang matang di pohon juga disebut jauh lebih tinggi dibandingkan buah yang dipetik mentah atau setengah matang. Dari tingkat petani, harga Gedong Gincu matang pohon sekitar Rp20 ribu per kilogram, sedangkan mangga mentah atau setengah matang sekitar Rp10 ribu per kilogram. Di pasaran, harganya dapat mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
“Sejak saat itulah petani di sentra mangga di Kecamatan Jatigede, Tomo dan Ujungjaya hanya menjual mangga yang matang di pohon. Tingkat kematangannya sekitar 85 persen ke atas dan terlihat warna merah seperti gincu,” tutur Didi.
Ia mengatakan, Gedong Gincu yang dihasilkan dari wilayah Sumedang memiliki karakter rasa yang berbeda dibandingkan produk dari sejumlah daerah lain. Selain manis, mangga Sumedang disebut memiliki rasa segar.
Saat ini, wilayah Jatigede, Tomo dan Ujungjaya menjadi salah satu kawasan pemasok utama Gedong Gincu yang beredar di pasaran. Didi menyebut pasokan dari tiga wilayah tersebut mencapai lebih dari 70 persen dari mangga Gedong Gincu yang beredar di pasar.
Khusus di Kecamatan Jatigede, luas perkebunan mangga Gedong Gincu disebut mencapai hampir 800 hektare. Dengan produktivitas rata-rata sekitar dua kuintal per pohon dan kepadatan sekitar 100 pohon per hektare, potensi produksi mangga di kawasan tersebut sangat besar.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya peningkatan akses jalan dan infrastruktur pendukung agar distribusi hasil panen dari sentra produksi menuju pasar maupun akses wisata ke kawasan perkebunan semakin mudah. (gun)






