RADARSUMEDANG.id, BANDUNG – Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) Siswa Madrasah Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026 tak sekadar menjadi panggung adu prestasi. Ajang yang berlangsung di Kota Tasikmalaya pada 22–24 Agustus itu juga menjadi ruang bagi siswa madrasah untuk menempa pengalaman, sportivitas, disiplin, sekaligus mengembangkan bakat dan minat.
Hal tersebut sejalan dengan pesan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., saat memberikan arahan dalam pembagian sertifikat dan hadiah PORSENI Murid Madrasah Jawa Barat 2026 di Aula Kanwil Kemenag Jabar, Selasa (22/9/2026).
Dudu menegaskan, pencapaian dalam sebuah kompetisi tidak semestinya hanya dilihat dari siapa yang menjadi juara. Proses yang dijalani siswa sejak persiapan, latihan, pertandingan hingga menerima hasil kompetisi merupakan pengalaman penting dalam pembentukan karakter.
“Yang penting adalah proses. Pendidikan kita ini proses. Proses itu pengalaman, dan pengalaman itu menjadi bagian dari support bagi anak-anak,” ujar Dudu.
Menurutnya, madrasah perlu terus memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk mengembangkan berbagai potensi. Tidak hanya dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga olahraga, seni, musik, serta bidang nonakademik lainnya.
“Kalau ada yang senang olahraga, silakan didukung. Ada yang senang seni, musik, silakan. Jangan berpikir sempit. Yang penting bagaimana potensi anak-anak kita menjadi inspirasi dan bekal bagi mereka,” katanya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan capaian kontingen Kabupaten Sumedang pada PORSENI Madrasah Jabar 2026. Sumedang berhasil membawa pulang delapan penghargaan, terdiri atas dua juara pertama, dua juara kedua, dan empat juara ketiga. Capaian tersebut diraih siswa dari jenjang MI, MTs hingga MA.
Ketua Umum PGM Indonesia Kabupaten Sumedang turut menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan PORSENI Madrasah Jawa Barat 2026. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut tidak hanya terlihat dari kelancaran pelaksanaan, tetapi juga dari munculnya potensi dan prestasi siswa madrasah dari berbagai daerah.
“PGM Indonesia Kabupaten Sumedang mengapresiasi pelaksanaan PORSENI Madrasah Jawa Barat 2026 yang berlangsung sukses. Ajang ini memberikan ruang yang sangat baik bagi siswa madrasah untuk menunjukkan bakat, kemampuan, sekaligus membangun pengalaman dan karakter melalui kompetisi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi perjuangan kontingen Sumedang yang mampu membawa pulang delapan penghargaan dari berbagai cabang lomba.
“Delapan penghargaan yang diraih kontingen Sumedang tentu patut kita syukuri dan apresiasi. Ini menjadi bukti bahwa potensi siswa madrasah di Sumedang cukup kuat dan mampu bersaing di tingkat Jawa Barat,” katanya.

Namun, capaian tersebut diharapkan tidak membuat pembinaan berhenti. PGM Indonesia Kabupaten Sumedang mendorong agar prestasi PORSENI 2026 menjadi pijakan untuk meningkatkan pembinaan secara berkelanjutan.
“Harapannya, pada PORSENI berikutnya prestasi Sumedang bisa lebih baik lagi. Bukan hanya menambah jumlah medali, tetapi juga semakin banyak siswa yang mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai bakat dan minatnya,” tuturnya.
Ia menilai, keberhasilan siswa dalam PORSENI merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan siswa, guru, pembina, madrasah, orang tua, serta berbagai pihak yang memberikan dukungan.
“Yang paling penting adalah proses pembinaannya. Anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding, belajar disiplin, bekerja keras, menghargai lawan dan menjaga sportivitas. Nilai-nilai itulah yang akan menjadi bekal mereka ke depan,” tambahnya.
Secara keseluruhan, PORSENI Siswa Madrasah Jawa Barat 2026 diikuti 27 kontingen kabupaten/kota dengan berbagai cabang olahraga dan seni. Ajang tersebut melibatkan ribuan peserta dari jenjang MI, MTs hingga MA. Pembukaan berlangsung di kawasan olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, dan ditutup pada 24 Agustus 2026.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat Dr. H. Badruzzaman, S.Ag., M.Pd., menilai PORSENI menjadi ruang penting untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat peserta didik madrasah.
Menurutnya, penghargaan yang diberikan kepada para juara diharapkan menjadi motivasi untuk terus berlatih sekaligus membangun karakter positif melalui kompetisi yang sehat.
“Capaian dalam PORSENI tidak semata-mata diukur dari perolehan juara, tetapi juga dari proses yang dilalui peserta didik dalam mempersiapkan diri, berkompetisi, dan belajar menghargai prestasi orang lain,” ungkapnya.
Dudu Rohman pun mengingatkan bahwa prestasi harus bermuara pada karya yang memberikan manfaat. Madrasah, kata dia, tidak hanya dituntut melahirkan generasi berpengetahuan agama, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan.
“Yang penting itu karya. Karya yang memberikan nilai dan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Dengan demikian, PORSENI bukan sekadar tentang podium dan medali. Lebih jauh, ajang tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan untuk menyiapkan siswa madrasah yang memiliki kompetensi, karakter, sportivitas, kreativitas, sekaligus keberanian untuk terus berkarya.(rik/net)






