Ketua Baznas RI Ajak ASN Sumedang Jadi Aparatur yang Tangguh, Jujur dan Peduli

oleh

RADARSUMEDANG.id — Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengajak aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Sumedang untuk memperkuat ketahanan spiritual di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

Arahan tersebut disampaikan Sodik saat memberikan tausyiah pada Pengajian Rutin dan Doa Bersama ASN Kabupaten Sumedang di Gedung Negara Sumedang, Kamis (1/10/2026) malam.

Menurut Sodik, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup telah membawa tantangan baru bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, penguatan nilai-nilai agama menjadi semakin penting, termasuk bagi para aparatur yang memiliki tanggung jawab dalam melayani masyarakat.

Ia menyebut, derasnya arus informasi melalui teknologi digital membuat berbagai pengaruh negatif dapat masuk dengan sangat cepat ke ruang kehidupan keluarga.

“Sekarang yang terjadi adalah banjir kemaksiatan masuk ke kamar anak-anak kita lewat video dan lain-lain,” ujar Sodik.

Karena itu, ia mendorong agar pola dakwah, pendidikan keagamaan dan pembinaan masyarakat terus diperbarui agar mampu menjawab tantangan zaman.

Sodik juga mengingatkan para ASN agar tidak hanya mengejar kompetensi teknis, tetapi juga memperhatikan kondisi batin dan spiritual.

Menurutnya, pengajian dapat menjadi sarana untuk mengisi kembali energi ruhani sekaligus membangun ketenangan jiwa.

Ia mengutip ajaran Al-Qur’an bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Ketenangan tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal bagi seseorang untuk bekerja lebih produktif dan melahirkan inovasi.

“Dengan jiwa yang tenang ada produktivitas, ada inovasi. Sebaliknya, jiwa yang resah dan gelisah membuat inovasi dan produktivitas sulit berkembang,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Sodik mengapresiasi pelaksanaan pengajian rutin bagi para pejabat dan aparatur di lingkungan Pemkab Sumedang.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dilakukan Pemkab Sumedang, termasuk pengembangan digitalisasi pemerintahan.

Dalam tausyiahnya, Sodik kemudian mengajak para pejabat dan ASN membangun lima karakter penting yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Pertama, as-shabirin, yakni menjadi pribadi yang sabar, tahan uji dan tahan banting dalam menjalankan tugas.

Menurutnya, seorang aparatur harus siap menghadapi berbagai tantangan, kritik, mutasi, maupun tekanan dalam menjalankan amanah selama tetap berada di jalan yang benar.

Kedua, as-shadiqin, yaitu menjadi pribadi yang jujur dan amanah.

Ia menekankan tiga hal penting: tidak berdusta ketika berbicara, tidak mengingkari janji dan tidak berkhianat ketika menerima amanah.

“Tidak banyak bohong, tidak banyak ingkar janji, dan ketika diberi amanah, memenuhinya,” tegasnya.

Ketiga, al-qanithin, yakni pribadi yang taat. Ketaatan itu diwujudkan dengan menjalankan ajaran agama sekaligus menaati peraturan yang berlaku.

Sodik mengingatkan bahwa ASN harus patuh terhadap ketentuan perundang-undangan, kebijakan pemerintah serta aturan yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas.

Keempat, al-munfiqin, yakni pribadi yang memiliki kepedulian.

Kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui pelayanan yang baik, keramahan dan kemauan untuk memudahkan urusan masyarakat.

Ia mengingatkan agar birokrasi tidak lagi memiliki pola pelayanan yang mempersulit masyarakat.

“Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan di akhirat,” ujarnya.

Kelima, al-mustaghfirin, yaitu pribadi yang mau mengakui kesalahan, melakukan introspeksi dan memohon ampun.

Sodik mengingatkan para pejabat agar tidak merasa paling benar hanya karena memiliki jabatan atau kewenangan.

“Jangan merasa paling benar, jangan merasa paling hebat. Kita juga memiliki kelemahan dan kesalahan,” katanya.

Sodik juga mengingatkan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, ia mengajak para ASN menjadikan jabatan sebagai sarana memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, terutama dalam mengurangi kemiskinan, memberikan rasa aman serta menghadirkan pelayanan yang mudah dan berkualitas.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai keimanan dan ketakwaan harus berjalan bersama dengan profesionalisme birokrasi.

“Kompetensi harus dipadukan dengan ketakwaan. Inilah dua senjata kita,” pungkasnya.(cwp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.