PPS Sumedang Kini Jadi Ruang Belajar Terbuka, Siswa Bisa Belajar Pemerintahan hingga Sejarah

oleh
Kepala Bidang Kebudayaan pada Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Moch. Budi Akbar saat memberikan penjelasan tentang kehidupan kepurbakalaan Sumedang di replika fosil Gajah Stegodon dan Kura-kura raksasa di lantai 2 PPS, Sabtu (4/9/2026).

RADARSUMEDANG.id, KOTA — Pemerintah Kabupaten Sumedang telah resmi menjadikan kawasan Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS) ruang belajar terbuka bagi generasi usia sekolah.

Kebijakan ini diwujudkan melalui peluncuran Sumedang Outing Class Edutourism Tahun 2026 oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir di Pendopo PPS, Sabtu (3/10/2026). Yang mana kawasan PPS kali ini telah bertransformasi bukan sekadar pusat aktivitas birokrasi, tetapi menjadi laboratorium ilmu.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir yang meresmikan Sumedang Outing Class Edutourism mengatakan, program kolaboratif ini membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah agar dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Ini merupakan program kolaboratif yang harus dimobilisasi dan menggerakkan seluruh kekuatan pemerintah daerah. Kemudian kita orkestrasi supaya bergerak bersama-sama mencapai tujuan,” kata Bupati Dony di hadapan para anak-anak sekolahan yang hadir di PPS.

Dirinya memberikan saran dan masukan mengenai keberlanjutan program menjadi hal penting yang harus dipersiapkan sejak awal. Konsistensi tersebut, kata Dony, membutuhkan kesiapan, kesungguhan, serta sistem pengelolaan yang baik.

Yang mana keberadaan kawasan pemerintahan di PPS tidak boleh hanya dipandang sebagai pusat perkantoran dan aktivitas birokrasi.

Lebih dari itu, lingkungan pemerintahan harus mampu menjadi ruang edukasi sekaligus sumber inspirasi bagi anak-anak.

“Kantor pemerintahan harus menginspirasi anak-anak. Jadi, kantor pemerintahan menjadi tempat untuk wisata pemerintahan sekaligus ada pembelajaran dan hiburannya. Kita ingin membuka ruang-ruang belajar terbuka, bahkan laboratorium kehidupan bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengalaman belajar secara langsung akan memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas.

“Ketika siswa datang ke PPS, mereka dapat memperoleh informasi sekaligus pengetahuan baru melalui pengalaman melihat dan mengamati secara langsung,” ucapnya.

“Di sini mereka bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang bagaimana pemerintah bekerja, bagaimana mengelola pemerintahan, bagaimana mengelola sampah, bagaimana mengetahui sejarah Sumedang, bagaimana mengetahui tentang pusat data dan komando atau Command Center, dan lainnya,” tambahnya.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Sumedang.

Lingkungan pemerintahan yang dikunjungi siswa diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperluas wawasan, sekaligus membuka cita-cita dan orientasi masa depan mereka.

“Jadikan kantor dan ruang kerja kita sebagai sumber inspirasi bagi masa depan mereka. Sebab, bisa jadi anak yang hari ini datang berkunjung ke kantor kita, beberapa tahun atau beberapa puluh tahun ke depan justru akan kembali ke tempat ini sebagai orang yang memimpin, melayani, atau memberikan kontribusi bagi masyarakat Sumedang,” katanya.

Ia berharap Sumedang Outing Class Edutourism terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan, memperkuat kecintaan generasi muda terhadap daerah, serta menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumedang menyiapkan generasi Pancawaluya yang cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer.

“Jadikan pengalaman hari ini sebagai bagian dari perjalanan kalian untuk tumbuh menjadi generasi kebanggaan Sumedang,” sebut Dony.

Ditempat yang sama, Kepala Disparbudpora Kabupaten Sumedang, Wuddan Lukmanul Hakim memaparkan, “Jelajah Budaya, Sejarah, Olahraga, Pemerintahan, dan Lingkungan Hidup”, Sumedang Outing Class Edutourism merupakan program wisata edukasi terintegrasi yang memadukan pembelajaran, kreativitas, budaya, sejarah, lingkungan, teknologi pemerintahan, dan pengalaman langsung dalam satu kawasan.

Program ini diikuti para siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Sumedang. Yang mana melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari ruang kelas, tetapi juga diajak melihat secara langsung bagaimana pemerintahan bekerja, bagaimana lingkungan dikelola, serta bagaimana sejarah dan budaya Sumedang dirawat.

Adapun rangkaian perjalanan edukasi dimulai dari Gedung Perpustakaan Daerah, kemudian dilanjutkan ke Jogging Track dan Pendopo, Selasar Seni dan Galeri UMKM, Fasilitas Pengolahan Sampah, Selasar Sejarah dan Arkeologi, Command Center Setda, hingga berakhir di Aula Tampomas.

Wuddan menjelaskan bahwa program ini lahir dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Disparbudpora bersama sejumlah perangkat daerah, meliputi Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Dinas Kesehatan, Diskominfosanditik, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

“Kami ingin mengenalkan potensi serta fungsi kawasan pusat pemerintahan kepada para siswa. Setelah dikolaborasikan, kawasan ini ternyata menyimpan banyak manfaat edukatif yang sangat relevan untuk menyiapkan generasi emas 2045,” papar Wuddan.

Selain itu program Edutainment PPS dirancang untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya Sunda, yakni filosofi Pancawaluya (cageur, bageur, bener, pinter, dan singer) sejak dini. Melalui pendekatan ini, para siswa diharapkan dapat memperluas wawasan, memperkuat wawasan kebudayaan, serta memberi kontribusi positif bagi masyarakat Sumedang di masa depan.

Wuddan juga mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan menggunakan konsep Pentahelix berbasis gotong royong antar pemangku kepentingan tanpa menyerap anggaran APBD.

“Yang perlu digarisbawahi, kegiatan ini murni non-APBD. Kami memaksimalkan skema kolaborasi Pentahelix sehingga program edukasi ini dapat terwujud,” bebernya.

Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan, Dani Setiawan, menyatakan bahwa outing class berkonsep edutourism ini menjadi sarana efektif dalam memperkaya literasi siswa mengenai tata kelola pemerintahan daerah dan potensi kepariwisataan lokal.

Guna memperkuat dampak pembelajaran, Dinas Pendidikan berkomitmen menyelaraskan materi kegiatan di lapangan dengan kurikulum formal di sekolah.

Sebab menurutnya aktivitas luar ruangan tersebut memiliki bobot akademis yang terukur dan terintegrasi dengan capaian belajar siswa.

“Dinas Pendidikan sangat mendukung inisiatif Disparbudpora. Kami akan menyiapkan materi pendukung yang relevan dengan kurikulum di setiap jenjang pendidikan, sehingga kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang rekreasi, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah akademis,” kata Dani seraya berharap program tersebut berjalan optimal dan mencapai sasaran yang diharapkan. (jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.