RADARSUMEDANG.id, JATINANGOR – Perayaan Milangkala Kecamatan Jatinangor ke-91 berlangsung semarak di Lapang Sepak Bola Jatiroke, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (3/10).
Dengan mengusung tema “Jagrag Jagat”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi masyarakat dari 12 desa, tetapi juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan terhadap seni dan budaya Sunda.
Rangkaian perayaan ditutup dengan pagelaran wayang golek dari Gentra Siloka dengan lakon “Babad Alas Ameur”. Pertunjukan yang menghadirkan dalang Gaos Sukmanajaya itu berlangsung pada malam hari dan mendapat antusiasme masyarakat.
Plt. Camat Jatinangor Endang Rohmayudi mengatakan, Milangkala menjadi momentum penting untuk memperkuat kekompakan sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat dari seluruh desa di Kecamatan Jatinangor.
“Milangkala Kecamatan Jatinangor ini adalah momentum bagi kami untuk menjaga kekompakan, menguatkan silaturahmi satu dengan yang lainnya. Selain itu, kita juga harus meningkatkan kecintaan terhadap budaya kita sendiri,” kata Endang.
Ia menambahkan, dengan menghadirkan seni tradisional dalam perayaan Milangkala bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya daerah agar tetap dikenal generasi muda.
“Sumedang itu adalah puser budaya. Otomatis kita harus melestarikan seni budaya kita sendiri supaya lebih dikenal oleh generasi Z,” ujarnya.
Menurut dia, keberlangsungan seni dan budaya lokal membutuhkan keterlibatan masyarakat. Tanpa kepedulian dan upaya memperkenalkannya kepada generasi berikutnya, kesenian tradisional berpotensi semakin jauh dari kehidupan masyarakat.
“Kalau bukan kita, sama siapa lagi? Mari kita junjung tinggi seni dan budaya kita sendiri,” kata Endang.
Pagelaran wayang golek menjadi penutup rangkaian Milangkala Kecamatan Jatinangor ke-91. Perayaan tersebut sekaligus mempertemukan pemerintah, masyarakat, dan pelaku seni dalam satu ruang kebersamaan.
“Di tengah perkembangan zaman, semangat “Jagrag Jagat” menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, seni dan tradisi lokal dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi penerus sebagai bagian dari identitas Jatinangor dan Sumedang,” tandasnya. (tha)





