RADARSUMEDANG.id, KOTA – Yogi Saparudin (35), pengemudi taksi online yang dilaporkan hilang kontak sejak Kamis (8/10), ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terkubur di kawasan Perkebunan Teh Margawindu, Dusun Cisoka, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Minggu (11/10).
Korban yang akrab disapa Ogin itu berasal dari Dusun Marasa, Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang. Penemuan jasadnya mengakhiri pencarian yang dilakukan keluarga dan rekan-rekan sesama pengemudi setelah korban tak kunjung memberikan kabar.
Kasi Humas Polres Sumedang AKP Munggardijaya mengatakan, Tim URC Resmob Satreskrim Polres Sumedang telah menangkap dua orang terduga pelaku berinisial A dan I. Namun, motif dan kronologi lengkap dugaan pembunuhan tersebut masih menunggu keterangan resmi kepolisian.
Salah seorang rekan korban, Ari Prabawa, mengatakan Yogi terakhir diketahui menerima orderan menuju kawasan galian pasir di kaki Gunung Tampomas pada Kamis malam. Setelah itu, korban tidak lagi memberikan kabar kepada rekan-rekannya.
“Dari hari Kamis, jam delapan malam, melaporkan kembali. Tapi, terakhir bikin status WhatsApp itu sore lagi di galian,” ujar Ari di Cisoka.
Kecurigaan muncul ketika korban tidak kunjung bisa dihubungi. Rekan-rekannya menduga orderan yang diterima Yogi berkaitan dengan dugaan jebakan melalui aplikasi taksi online InDriver.
“Diindikasikan itu orderan fiktif. Jadi, memang ada beberapa orderan di aplikasi InDriver, itu kayak sudah diterima, terus dicancel, kayak nyari mangsa,” katanya.
Pencarian berlanjut hingga Jumat. Rekan-rekan korban menemukan mobil milik Yogi terparkir di kawasan Peusar, Desa Baginda. Seseorang yang berada di lokasi menyebut mobil tersebut sedang digadaikan. Namun, menurut Ari, keterangan orang itu berubah-ubah saat dimintai penjelasan lebih lanjut.
Mobil tersebut kemudian dibawa ke Polres Sumedang untuk kepentingan pemeriksaan. Ari juga mengaku mendapat informasi mengenai dua orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Salah seorang di antaranya disebut mengaku sebagai sahabat korban sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
“Dia bilang sahabat Bogin, jadi dekat sama Bogin. Kami percaya saja karena kan driver online,” tuturnya.
Ari mengaku terpukul atas kematian rekannya yang selama ini dikenal mudah bergaul dan senang membantu sesama pengemudi. Ia menyebut tidak mengetahui adanya persoalan yang berpotensi membahayakan korban.
“Enggak ada yang menyangka. Dia tuh baik ke semua orang. Malahan saya juga banyak dibantu sama A Bogin ini. Makanya, kayaknya enggak pernah punya masalah sama orang lain,” katanya.
Rekan-rekan korban menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan perampokan atau pemegalan. Namun, dugaan mengenai motif maupun penggunaan orderan fiktif itu masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan kepolisian.
Guna kepentingan penyelidikan, jasad korban selanjutnya dibawa ke RS Sartika Asih Bandung untuk proses otopsi.
Ari berharap kasus tersebut diusut tuntas dan para pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Sementara itu, penangkapan dua terduga pelaku diharapkan dapat membantu mengungkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia. (gun)





