Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila pada Anak Usia Dini di TK Banyusalam melalui Pembiasaan dan Keteladanan

oleh

Oleh: Siti Anisa Maolida

(Mahasiswa PJJ Pendidikan Agama Islam (PAI) Uin Siber Syekh Nurjati Cirebon)

RADARSUMEDANG.id — Internalisasi nilai-nilai Pancasila sejak usia dini merupakan strategi fundamental dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Proses ini dapat diawali dari satuan pendidikan, termasuk Taman Kanak-Kanak (TK) Banyusalam, yang memfasilitasi anak mengenal nilai kebersamaan, kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian melalui pembelajaran kontekstual dan menyenangkan.

Pada jenjang pendidikan anak usia dini, Pancasila tidak semata dihafalkan, tetapi diaktualisasikan sebagai sistem nilai dalam perilaku sehari-hari. Menurut Lickona (1991), pendidikan karakter yang utuh mencakup pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Melalui belajar sambil bermain, anak di TK Banyusalam distimulasi untuk mengetahui, merasakan, dan mempraktikkan nilai saling menghormati, kerja sama, berbagi, dan toleransi.

Nilai-nilai tersebut tampak dalam praktik pembiasaan. Berdoa sebelum dan sesudah belajar menanamkan sila pertama, sedangkan sikap saling menolong dan tidak mengejek teman merefleksikan sila kedua. Nilai persatuan (sila ketiga) berkembang melalui kegiatan bermain dan kerja kelompok. Dalam perspektif sosiokultural Vygotsky (1978), interaksi dengan teman sebaya dan orang dewasa menjadi sarana utama perkembangan sosial anak.

Nilai musyawarah (sila keempat) dilatih melalui diskusi sederhana menentukan permainan, dan keadilan sosial (sila kelima) melalui pembagian alat permainan secara proporsional serta sistem giliran yang setara.
Praktik tersebut selaras dengan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi berakhlak mulia dan bergotong royong (Kemendikbudristek, 2022).

Peringatan HUT RI melalui lomba tradisional dan lagu kebangsaan juga menjadi momentum menumbuhkan nasionalisme, sekaligus melatih anak menaati aturan, menerima hasil dengan lapang dada, dan bersikap sportif.

Guru berperan strategis sebagai teladan, karena anak belajar melalui pengamatan dan peniruan model di sekitarnya (Bandura, 1977). Dukungan orang tua pun menentukan, sebab perkembangan anak dipengaruhi interaksi sistem lingkungan keluarga dan sekolah (Bronfenbrenner, 1979). Konsistensi kebiasaan baik di kedua lingkungan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi internalisasi nilai Pancasila.

Dengan demikian, pembentukan generasi berkarakter tidak selalu bertumpu pada program besar, melainkan pada kebiasaan baik yang ditanamkan, diteladankan, dan dilakukan secara konsisten sejak masa kanak-kanak.(*)

Daftar Pustaka:

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Kemendikbudristek. (2022). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 009/H/KR/2022 tentang Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta.

Lickona, T. (1991). Educating for Character. New York: Bantam Books.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Cambridge, MA: Harvard University Press.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.