Tiga Inovasi Sains SMPIT Insan Sejahtera Raih Penghargaan di Ajang Science Expo dan Science Challenge 2026

oleh
Kepala SMPIT Insan Sejahtera Khodijah Mustaqimah (ketiga dari kanan) didampingi para guru pembimbing bersama para siswa yang berhasil meraih juara pada Science Expo dan Science Challenge 2026 tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Sumedang, Sabtu (17/10/2026) di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS).

RADARSUMEDANG.id, KOTA – Berawal dari persoalan sehari-hari, siswa SMPIT Insan Sejahtera Sumedang melahirkan tiga inovasi sains yang menarik perhatian dalam ajang Science Expo dan Science Challenge 2026 tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Sumedang, Sabtu (17/10/2026).

Ketiga inovasi tersebut meliputi BASI, alat untuk mengenali indikasi pembusukan makanan; RUBRION, indikator minuman menggunakan bioplastik dari kol ungu; serta MAGORA, lilin aromaterapi berbahan minyak magot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly).

Dari ketiga karya itu, BASI (Bot Analysis Status Indikasi Pembusukan pada Makanan Bergizi Gratis) berhasil meraih Juara 1 Best Science Presentation. Sementara itu, RUBRION (Indikator Minuman Basi Menggunakan Bioplastik dari Kol Ungu) memperoleh penghargaan 2nd Best Innovation of Science Project.

Adapun MAGORA menghadirkan gagasan berbeda dengan mengolah magot menjadi minyak yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan lilin aromaterapi meraih Juara 1 Best Innovation. Produk tersebut dikembangkan dengan pilihan aroma, salah satunya kopi cappuccino.

Kepala SMPIT Insan Sejahtera Sumedang, Khodijah Mustaqimah, SE, MSi, menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran sains dapat mendorong siswa menghasilkan gagasan yang berangkat dari persoalan nyata.

“Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan berani mengembangkan ide. Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mampu menerapkannya melalui eksperimen dan menghasilkan karya yang bermanfaat,” jelas Khodijah.

Menurutnya, proses pengembangan inovasi memberikan pengalaman belajar yang berharga. Siswa dituntut mengamati persoalan, merumuskan gagasan, melakukan percobaan, serta menyampaikan hasilnya secara sistematis.

Hal itu terlihat dalam pengembangan BASI yang berangkat dari kepedulian terhadap kualitas makanan, khususnya dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui perpaduan sains dan teknologi, siswa mencoba merancang alat bantu untuk mengenali indikasi pembusukan makanan.

Isu tersebut relevan dengan pentingnya menjaga kualitas pangan. Namun, kemampuan alat dalam mendeteksi pembusukan tetap memerlukan pengujian dan validasi ilmiah agar hasilnya dapat diandalkan sebagai alat bantu pemeriksaan.

Sementara itu, RUBRION memanfaatkan kol ungu sebagai bahan indikator untuk mengamati perubahan pada minuman. Kol ungu mengandung pigmen antosianin yang dapat berubah warna mengikuti tingkat keasaman atau pH.

Pemanfaatan bahan alami ini memperlihatkan bahwa ide inovasi dapat bermula dari material sederhana di sekitar siswa. Meski demikian, perubahan warna indikator pH tidak otomatis membuktikan minuman telah basi sehingga diperlukan pengujian lanjutan untuk memastikan ketepatannya.

Inovasi ketiga, MAGORA, tak kalah menarik. Para siswa mengembangkan gagasan pemanfaatan magot dari jenis Black Soldier Fly menjadi minyak, kemudian mengolahnya sebagai bahan lilin aromaterapi dengan aroma kopi cappuccino.

Pengembangan tersebut membuka peluang pembelajaran mengenai pemanfaatan hasil budidaya magot menjadi produk bernilai tambah. Selain kreativitas dalam merancang produk, proses ini juga menuntut pemahaman tentang karakteristik bahan, keamanan pembakaran, kestabilan lilin, dan kualitas aroma.

Pembina Yayasan Mitra Insan Sejahtera, Hj Yani Citraeni, SE, MPd, yang akrab disapa Umi Yani, turut mengapresiasi semangat siswa dalam mengembangkan ketiga inovasi tersebut.

“Anak-anak perlu diberi ruang untuk mencoba, bereksperimen, dan mengembangkan potensi mereka. Kami berharap pengalaman ini tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kemandirian, kreativitas, serta keberanian untuk menghadirkan solusi bagi persoalan di lingkungan sekitar,” jelas Umi Yani.

Umi Yani juga diharapkan dapat mendorong keberlanjutan pembinaan siswa agar inovasi yang telah dikembangkan tidak berhenti setelah kompetisi. Melalui pendampingan dan evaluasi, setiap karya berpeluang disempurnakan menjadi proyek yang lebih matang.

Ajang Science Expo dan Science Challenge 2026 diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Sumedang dan diikuti 62 SMP/MTs dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumedang. Kegiatan tersebut bertujuan menjadi wadah kreativitas, inovasi, dan penalaran sains bagi pelajar.

Science Expo telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Dalam cabang ini, setiap sekolah mengirimkan satu tim beranggotakan lima siswa untuk memamerkan karya sains. Sementara itu, Science Challenge menjadi cabang baru yang pertama kali digelar pada 2026 dengan jumlah anggota maksimal tiga siswa per tim.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, yang memberikan apresiasi terhadap daya kritis dan keberanian para pelajar.

Bagi SMPIT Insan Sejahtera Sumedang, capaian BASI dan RUBRION serta pengembangan MAGORA menjadi dorongan untuk memperkuat budaya ilmiah di lingkungan sekolah. Ketiganya menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, berkolaborasi, dan merancang inovasi.

Lebih dari sekadar kompetisi, pengalaman tersebut menjadi langkah untuk membangun generasi muda yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menggunakannya secara kreatif, kritis, dan bertanggung jawab.(rik)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.