RADARSUMEDANG.id, BANDUNG — Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Barat H Ridwan Solichin, SIP, MSi, menegaskan, Hari Santri Nasional (HSN) 2026 harus menjadi momentum untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
“Santri hari ini harus memiliki bekal yang utuh. Bukan hanya kuat dalam pemahaman agama dan akhlak, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, serta keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan begitu, santri bisa mengambil peran lebih besar dalam membangun bangsa,” ujar Kang Rinso, sapaannya.
Menurut Kang Rinso, identitas santri tidak cukup diukur dari pakaian, lingkungan pendidikan, maupun penguasaan ilmu keagamaan. Nilai kesantrian harus terlihat dari karakter, perilaku, dan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjadi santri bukan sekadar menyandang identitas, melainkan bagaimana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam perilaku. Kesederhanaan, kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama harus menjadi bagian dari kepribadian santri,” tegasnya.
Dia menilai, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pesantren. Karena itu, penguatan pendidikan agama perlu berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis.
“Jangan sampai santri hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Santri harus mampu beradaptasi, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan menghasilkan karya yang bermanfaat tanpa kehilangan jati diri serta nilai-nilai keislamannya,” katanya.
Selain penguasaan ilmu, Kang Rinso menekankan pentingnya membangun jiwa kepemimpinan dan kemandirian ekonomi di kalangan santri. Pesantren diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki keberanian untuk berkontribusi menyelesaikan persoalan sosial dan ekonomi di lingkungannya.
“Santri harus disiapkan menjadi pemimpin yang amanah, adil, dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat. Kepemimpinan bukan semata-mata soal jabatan, tetapi tentang kesediaan melayani, menjaga persatuan, dan memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi umat,” paparnya.
Kang Rinso juga mendorong agar pendidikan pesantren semakin memberi ruang bagi pengembangan kewirausahaan, riset, kreativitas, dan keterampilan kerja. Menurutnya, ilmu yang dipelajari santri harus dapat diterjemahkan menjadi kemampuan nyata yang mendorong kemandirian dan membuka peluang kemajuan bagi masyarakat.
“Ilmu jangan berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus melahirkan keterampilan, keterampilan menghasilkan karya, dan karya itu memberikan manfaat bagi orang banyak. Di situlah salah satu ukuran keberhasilan pendidikan santri,” ungkapnya.
Dia menambahkan, keberhasilan pembinaan santri juga sangat ditentukan oleh keteladanan para pengasuh, guru, dan seluruh lingkungan pendidikan. Nilai-nilai akhlak akan lebih mudah tertanam apabila santri menyaksikan langsung praktik kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat. Harus ada keteladanan dan pembiasaan. Santri perlu melihat bahwa nilai-nilai yang diajarkan benar-benar dijalankan oleh orang-orang di sekitarnya,” tandasnya.
Melalui momentum HSN 2026, Kang Rinso berharap pesantren semakin kokoh dalam menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman. Santri masa depan, menurutnya, harus mampu menjadi penjaga moralitas, penggerak kemajuan, dan pemersatu bangsa.
“Kita ingin santri yang kuat imannya, luas ilmunya, baik akhlaknya, terampil berkarya, dan siap mengabdi. Santri harus hadir sebagai bagian dari solusi, membawa manfaat bagi masyarakat, serta ikut menentukan arah masa depan bangsa,” pungkasnya.(rik)







