RADARSUMEDANG.id, UJUNGJAYA – Dugaan kekerasan terhadap seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang di Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, menjadi sorotan setelah viral di media sosial Threads. Pihak sekolah membantah kondisi korban seperti yang beredar di media sosial, tetapi menyatakan akan menelusuri dugaan tersebut.
Informasi yang diunggah akun @ryu_reall menyebutkan, seorang siswa kelas V sekolah dasar berinisial MRA (11), asal Kota Tasikmalaya, diduga mengalami pemukulan di bagian dahi, pembakaran, hingga dipaksa merokok oleh wali asrama. Unggahan itu juga menyertakan foto yang diklaim menunjukkan luka pada tubuh korban.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang, Cece Enjang Kartiwa, membenarkan bahwa MRA merupakan siswanya. Namun, ia membantah kondisi anak tersebut saat meninggalkan sekolah sesuai dengan gambaran dalam unggahan yang viral.
“Tidak benar bahwa kondisi wajahnya atau kulitnya seperti itu, seperti yang diberitakan,” kata Cece, Jumat (23/10).
Cece menjelaskan, pada 8 Oktober 2026, MRA dijemput kakek dan neneknya untuk pulang sementara ke Tasikmalaya. Berdasarkan keterangan pihak sekolah, siswa tersebut dalam kondisi sehat saat dijemput dan tidak terlihat mengalami luka seperti yang ramai diberitakan.
“Pada saat itu kakeknya dan neneknya menjemput anak tersebut untuk pulang terlebih dahulu dalam kondisi sehat walafiat. Tidak ada luka apa pun,” ujarnya.
Meski membantah kondisi korban seperti dalam unggahan media sosial, Cece menegaskan pihaknya akan menelusuri informasi tersebut, termasuk dugaan adanya kekerasan di lingkungan sekolah.
Ia mengatakan, sekolah berupaya mencegah segala bentuk kekerasan, baik antarsiswa maupun yang dilakukan tenaga pendidik dan kependidikan terhadap siswa.
Jika ditemukan dugaan kontak fisik antara wali asrama dan siswa, pihak sekolah akan mendalami persoalan tersebut serta berkoordinasi dengan pimpinan di tingkat pusat untuk mendapatkan arahan.
Cece juga membantah kabar bahwa MRA melarikan diri dari sekolah. Menurutnya, siswa tersebut pulang sementara bersama keluarganya. MRA diketahui merupakan siswa titipan dari Kota Tasikmalaya karena daerah asalnya belum memiliki gedung Sekolah Rakyat permanen.
Di sisi lain, Cece menyebut proses adaptasi siswa terhadap lingkungan sekolah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Namun, hal tersebut tidak menghapus perlunya penelusuran atas dugaan kekerasan yang beredar.
Sementara itu, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ujungjaya melakukan pengecekan langsung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang untuk mengonfirmasi informasi tersebut.
Camat Ujungjaya, Gungun Nugraha, mengatakan pengecekan dilakukan bersama pihak sekolah, unsur TNI, kepolisian, serta personel Reskrim Polsek Ujungjaya.
“Kami tadi sudah cek lokasi ke Sekolah Rakyat untuk konfirmasi dengan para kepala sekolah bersama Badan Posramil Ujungjaya, Pak Kapolsek Ujungjaya juga disertai dengan rekan-rekan dari Reskrim Polsek Ujungjaya terkait berita yang ada di media sosial,” kata Gungun.
Dari hasil konfirmasi awal, pihaknya memperoleh informasi bahwa MRA dijemput keluarganya pada 8 Oktober 2026. Menurut keterangan yang diterima di lokasi, kondisi siswa saat itu sehat dan tidak mengalami luka seperti yang diberitakan.
Meski demikian, Forkopimcam meminta pihak sekolah meningkatkan pengawasan terhadap siswa selama berada di lingkungan sekolah. Unsur TNI dan Polri juga siap memperkuat koordinasi melalui patroli dengan melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
“Kami akan koordinasi terus dengan pihak Sekolah Rakyat dan pihak sekolah juga diharapkan bisa sinergi dengan kita di lapangan,” ujarnya.
Hingga kini, dugaan kekerasan tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Kondisi siswa saat dijemput keluarga menjadi keterangan awal pihak sekolah dan Forkopimcam, tetapi belum dengan sendirinya memastikan benar atau tidaknya dugaan kekerasan yang diunggah di media sosial. (gun)





