RADARSUMEDANG.id, TANJUNGSARI– Tina Nurherma, calon kepala Desa Raharja nomor urut 1, meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Raharja, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (28/10). Tina mengantongi 2.727 suara dalam pesta demokrasi tingkat desa yang untuk pertama kalinya menerapkan sistem pemungutan suara digital di Kabupaten Sumedang tersebut.
Berdasarkan hasil penghitungan suara, posisi kedua ditempati calon nomor urut 5, Asep Rustana, dengan perolehan 1.590 suara. Selanjutnya, Memed Tarmedi (nomor urut 2) memperoleh 443 suara, Kusnadi (nomor urut 3) meraih 133 suara, dan Asep Deni (nomor urut 4) memperoleh 124 suara.
Pemungutan suara berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 13.00 WIB. Proses pemilihan digelar di sembilan tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 16 rukun warga (RW).
Dari total 6.548 pemilih yang tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT), sebanyak 5.022 orang menggunakan hak pilihnya. Angka tersebut menunjukkan tingkat partisipasi pemilih mencapai sekitar 76,7 persen.
Ketua Panitia Pilkades Raharja, Iman Nurman, S.Pd., mengatakan secara umum pelaksanaan pemungutan suara berjalan aman dan lancar. Meski menggunakan teknologi digital, sejumlah kendala teknis sempat ditemukan di lapangan.
“Secara umum, pelaksanaan pemungutan suara berlangsung aman dan lancar. Meski demikian, sejumlah kendala teknis sempat muncul, antara lain persoalan alat pengisian daya perangkat (charging) serta printer yang tidak mengeluarkan resi hasil pemilihan,” ujarnya.
Menurut Iman, kendala tersebut dapat segera ditangani. Panitia juga membuat berita acara khusus terkait kejadian tersebut sehingga permasalahan teknis tidak menghambat jalannya pemungutan suara secara keseluruhan.
Ia menjelaskan, penerapan sistem digital menjadi bagian dari upaya modernisasi penyelenggaraan Pilkades di Kabupaten Sumedang. Namun, penggunaan teknologi harus tetap disertai pengawasan dan mekanisme verifikasi yang memadai agar hasil pemilihan dapat dipertanggungjawabkan.
“Penerapan sistem digital juga perlu diimbangi dengan pengawasan dan mekanisme verifikasi yang memadai. Langkah tersebut penting untuk memastikan hasil pemilihan dapat dipertanggungjawabkan dan memperoleh kepercayaan masyarakat,” katanya.
Selain persoalan teknis, Iman menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk seluruh tahapan Pilkades. Menurut dia, proses persiapan hingga pelaksanaan membutuhkan waktu panjang, bahkan mencapai enam bulan, sementara honor yang diterima panitia disebut hanya untuk satu bulan.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kebutuhan anggaran penyelenggaraan Pilkades agar pelaksanaan setiap tahapan dapat berjalan lebih optimal.
Persoalan validitas data pemilih juga menjadi catatan penting. Iman menilai pemutakhiran data perlu dilakukan secara lebih terstruktur dengan melibatkan petugas khusus di setiap TPS.
“Yang paling penting dan urgen, data pemilih harus benar-benar valid. Karena itu, diperlukan petugas pemutakhiran data pemilih (Pantarlih) di setiap TPS, minimal dua orang. Namun, upah untuk Pantarlih memang tidak tersedia dalam anggaran Bankudes, sehingga panitia bersama RT dan RW harus bekerja keras mendata pemilih yang benar-benar memenuhi ketentuan sesuai regulasi,” tuturnya.
Iman juga mengimbau seluruh calon kepala desa, khususnya kandidat yang memperoleh suara lebih sedikit, agar menerima hasil pemilihan dengan lapang dada. Ia menegaskan, perbedaan pilihan dalam kontestasi politik tingkat desa tidak boleh memecah persatuan warga.
Menurut dia, seluruh pihak perlu menghormati proses demokrasi dengan menjunjung kebebasan memilih, kerahasiaan suara, serta sikap saling menghargai.
“Dengan berakhirnya pemungutan suara, mari kita bersama-sama bersatu dan mendukung jalannya pemerintahan desa,” tandasnya. (tha)





