RADARSUMEDANG.id — Memasuki musim hujan, normalisasi Sungai Cimande di Kecamatan Cimanggung, kembali menjadi perhatian.
Warga meminta penanganan segera terhadap sedimentasi sungai yang berpotensi memicu banjir, terutama di sektor 1 yang dinilai masih rawan luapan air.
Aspirasi tersebut disampaikan warga kepada Anggota DPRD Kabupaten Sumedang dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jatinangor-Cimanggung, Asep Kurnia, yang akrab disapa Askur.
Menindaklanjuti keluhan tersebut, Askur menyatakan kesiapannya membantu pembiayaan pengerukan sungai sebagai upaya mengantisipasi banjir menjelang puncak musim penghujan.
Saat ditemui sejumlah awak media di Kantor Kecamatan Cimanggung belum lama ini, Askur mengatakan, penanganan Sungai Cimande perlu dilakukan secara menyeluruh di tiga sektor.
Pasalnya berdasarkan hasil pemantauan kepala dusun juga warga setempat, sedimentasi rupanya masih terjadi di sejumlah titik berpotensi menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir ketika intensitas hujan meningkat.
Menurutnya, normalisasi yang saat ini dikerjakan di sektor 3 perlu dilanjutkan dengan penanganan sektor 1 dan 2. Terlebih, warga menilai sektor 1 menjadi salah satu titik yang perlu segera ditangani karena kondisi sedimentasi di kawasan tersebut dikhawatirkan memicu luapan sungai.
“Dari pihak kecamatan belum jelas kapan penanganan bisa dilanjutkan ke sektor 1 dan 2. Padahal, berdasarkan aspirasi warga, potensi banjir di sektor 1 ini cukup besar. Karena itu, saya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar normalisasi di tiga sektor bisa diselesaikan,” kata Askur.
Askur menilai, penanganan banjir tidak seharusnya hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Apalagi, kondisi cuaca pada musim penghujan sulit diprediksi, sehingga langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk meminimalkan risiko serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap masyarakat.
Ia mengungkapkan, luapan Sungai Cimande sebelumnya berdampak terhadap warga di Desa Sindangpakuon. Sedikitnya dua rukun tetangga (RT) dengan sekitar 150 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak banjir. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat agar penanganan sedimentasi tidak ditunda, terutama pada titik yang berdekatan dengan permukiman warga.
Sebagai bentuk dukungan terhadap aspirasi masyarakat, Askur menyatakan siap membantu pembiayaan normalisasi Sungai Cimande di sektor 1 selama dua hari. Sementara itu, berdasarkan perkiraan kebutuhan pengerjaan, normalisasi di sektor tersebut membutuhkan waktu sekitar delapan hari.
“Kalau memang aspirasi warga ini penting dan dampaknya bisa dirasakan sekitar 150 sampai 200 KK, saya siap mendukung pembiayaan untuk dua hari. Perkiraan pengerjaan sektor 1 membutuhkan waktu delapan hari. Mudah-mudahan sisanya bisa didukung pemerintah daerah agar normalisasi ini bisa diselesaikan,” paparnya.
Ia berharap, rencana pengerjaan normalisasi sektor 1 yang dijadwalkan mulai 2 November mendatang dapat segera direalisasikan.
Oleh karenanya, koordinasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah daerah, dan pihak terkait dinilai penting agar pekerjaan dapat berjalan berkesinambungan, termasuk memastikan kebutuhan mobilisasi alat berat bisa terpenuhi.
“Tolong informasikan ke warga, mari kita bersama-sama menjadi kunci agar persoalan banjir tidak terus berulang setiap musim hujan. Dengan normalisasi yang dilakukan sebelum debit air meningkat, warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Cimande diharapkan dapat merasa lebih aman dan risiko kerugian akibat banjir bisa ditekan,” terang Askur.
Sebelumnya, normalisasi Sungai Cimande juga sempat dilakukan Pemerintah Daerah pada awal 2025. Upaya tersebut terbukti membantu mengatasi persoalan banjir yang salah satunya berkaitan dengan kebiasaan membuang sampah ke sungai. Namun, persoalan sedimentasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama, khususnya di sektor 1 yang membutuhkan penanganan lanjutan.
Karena itu, keberlanjutan normalisasi perlu dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai dan tidak menjadikannya tempat pembuangan sampah. Selain pengerukan sedimentasi, pemeliharaan aliran sungai secara berkala diharapkan menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi banjir sekaligus melindungi permukiman warga di sekitar Sungai Cimande. (jim)





