RADARSUMEDANG.ID, CIMALAKA – Sejumlah desa di Kabupaten Sumedang mulai kewalahan menangani masalah Covid-19 yang dialokasikan delapan persen dari dana desa (DD).
Hal itu disampaikan Dewan Pertimbangan Organisasi Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (DPO Apdesi) Kabupaten Sumedang, Sumpena kepada radarsumedang.id. Rabu (28/7).
Menurutnya, semenjak kegiatan pemulasaran jenazah Covid-19 mulai dilimpahkan ke setiap pemerintah desa masing-masing, beban yang ditugaskan semakin berat.
“Untuk satu buah peti jenazah saja harganya sampai Rp 2 juta. Peti jenazah Covid-19 harus dibuat khusus secara apik berbahan papan tebal, sehingga dijamin aman dan tidak menularkan ke para petugas tiap desa yang memakamkan jenazah itu,” jelas Sumpena.
Seragam alat pelindung diri atau APD lengkap yang harus selalu disediakan petugas berguna untuk satu kali pakai dan sejumlah perlengkapan tambahan lainnya. Selain itu, sebelum semenjak kegiatan pemulasaran jenazah Covid-19 mulai dilimpahkan ke setiap pemerintah desa masing-masing, kegiatan rutin penanganan korona juga sudah menjadi program di tiap desa.
Penanganan rutin tersebut seperti memberikan bantuan sembako kepada warga terdampak, mensterilkan lingkungan dengan penyemprotan desinfektan, membagikan masker berikut hand sanitizer dan menyediakan tempat cuci tangan serta lainnya.
“Jika mengandalkan delapan persen dari dana desa untuk semua kegiatan itu, jelas sebagian desa mulai kewalahan,” tandasnya.
Sebaliknya, jika menunggu bantuan pihak ketiga dari donatur warga tidak bisa diandalkan, lantaran mengingat dengan situasi kondisi sekarang justru para warga yang menanti bantuan dari pemerintah.
“Semoga ini bisa menjadi pertimbangan dan perhatian lagi oleh pemerintah yang lebih atas,” harapnya.
Sumpena menambahkan, kegiatan pemulasaran jenazah Covid-19 yang sekarang dilimpahkan ke setiap pemerintah desa masing-masing juga harus dibarengi dengan pelatihan dari Dinkes. Di antara para petugas pemulasaran jenazah Covid-19 dari desa tidak semuanya memahami dan memiliki kemampuan sesuai dengan Prokes.
“Karena pemulasaran jenazah Covid-19 tata caranya harus khusus metode dan sistemnya, sehingga harus diajarkan dulu. Kalau tidak, nanti petugas juga bisa kena tertular,” paparnya seraya mengapresiasi untuk seluruh petugas pemulasaran jenazah Covid-19 di semua tingkat desa yang sudah mau bekerja tanpa mendapat honor.
Pihaknya berharap agar seluruh Pemdes dan Dinkes tetap menjalin kerjasama yang baik terutama untuk saling komunikasi dan koordinasi setiap undate data warga terpapar Covid-19. Kerjasama yang baik tadi sangat berguna dalam pencegahan penularan Covid-19. (tri).





