Dari Jakarta ke Tanjungkerta, Amar Fadillah Sukses Kembangkan Bisnis Kopi Luwak Sumedang

oleh
Founder Wisata Edukasi Kopi Luwak Sumedang, Amar Fadilah saat menunjukkan kopi luwak yang sedang dijemur di MTB Happiness Farm, Dusun Cibodas Desa Kertamekar Kecamatan Tanjungkerta, Sabtu (27/9/2025).

RADARSUMEDANG.id, TANJUNGKERTA – Berawal dari rasa jenuh dengan rutinitas kerja di Jakarta, Amar Fadillah, seorang karyawan swasta, memilih pulang kampung dan merintis usaha Kopi Luwak. Kini, ia sukses mengembangkan Wisata Edukasi Kopi Luwak Sumedang di Dusun Cibodas, Desa Kertamekar, Kecamatan Tanjungkerta.

Di lokasi tersebut, Amar membudidayakan tiga komoditas, yakni kopi luwak, jamur tiram, dan lebah trigona. Namun kopi luwak menjadi produk utama karena tergolong langka dan banyak dicari konsumen.

Saat ditemui Radar Sumedang di MTB Happiness Farm, Amar memperlihatkan proses produksi kopi luwak, mulai dari ceri kopi yang dimakan luwak hingga menjadi biji kopi siap seduh. Menurutnya, budidaya ini sudah dimulai sejak 2021.

“Awalnya saya prihatin karena kopi luwak yang dikenal mahal di luar negeri justru berasal dari Indonesia. Sejarahnya, saat masa kolonial Belanda, pribumi tidak bisa menikmati kopi perkebunan sehingga mereka memanfaatkan biji kopi dari kotoran luwak. Ternyata rasanya lebih nikmat, kadar kafeinnya lebih rendah, dan lebih lembut,” jelas Amar, Sabtu (26/9/2025).

Amar menuturkan, ia mulai dengan satu ekor luwak dari Depok. Setelah bergabung dengan komunitas musang di Jawa Barat, jumlahnya berkembang menjadi lima ekor. Ia pun belajar langsung cara produksi kopi luwak.

Untuk pakan, luwak tidak hanya diberi ceri kopi, tetapi juga makanan bergizi seperti pepaya, pisang, kepala ayam, ikan nila, telur, dan air putih. “Kalau terlalu sering diberi kopi, umur luwak bisa pendek dan kualitas biji juga menurun. Karena itu pemberian kopi hanya sesekali, selebihnya diberi makanan bergizi,” ujarnya.

Proses pengolahan biji kopi luwak pun cukup panjang, mulai dari penjemuran 7–18 hari, pencucian, hingga menjadi green beans. Setelah itu dilakukan roasting sebelum diseduh dengan metode manual brew.

Selain kopi, Amar juga mengembangkan budidaya jamur tiram dan lebah trigona. Namun fokus utamanya tetap pada kopi luwak yang ia yakini memiliki potensi besar. “Dunia mencari kopi luwak Indonesia. Sayang kalau kita sendiri tidak menikmatinya. Kopi Luwak Sumedang saya harap bisa menjadi kebanggaan dari desa untuk dunia,” tuturnya.

Tidak hanya menjual kopi, Amar juga membuka ruang edukasi di farm miliknya. “Di sini pengunjung bisa belajar langsung prosesnya, bukan sekadar minum kopi. Setiap cangkir Kopi Luwak Sumedang punya cerita, bagaimana ia diproses, dirawat, dan dilestarikan,” katanya.

Amar juga membangun kedai kopi manual brew yang terinspirasi dari kopi tiam di Cina, Aceh, dan Singkawang. Kedai ini menyajikan kopi tanpa mesin, melainkan dengan teknik seduh manual.

Untuk harga, Kopi Luwak Sumedang dijual Rp150 ribu per 100 gram, baik biji maupun bubuk. Produk ini dipasarkan secara online melalui media sosial dan e-commerce.

“Alhamdulillah sudah ada yang pesan sampai ke Bali, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan. Bahkan ke luar negeri sudah sampai Singapura dan Inggris. Ada yang untuk konsumsi, ada juga untuk masker wajah. Rata-rata mereka tahu dari konten media sosial yang saya buat sendiri. Sekarang Kopi Luwak Sumedang juga sudah masuk UMKM daerah,” pungkas Amar. (jim)

No More Posts Available.

No more pages to load.